#Perang Iran vs AS-IsraelLAPSUS

Trump dalam Posisi Sulit, Tampak Kegagalan AS di Iran

Salah satu opsi yang muncul adalah menegosiasikan pembukaan kembali Selat Hormuz secara sementara, namun hal itu berarti harus menunda pembicaraan mengenai kepemilikan lebih dari 400 kg uranium diperkaya tinggi (highly enriched uranium) serta hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium di masa depan.

Berdasarkan laporan dari New York Times, Trump dikabarkan merasa tidak puas dengan proposal terbaru yang diajukan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz bagi kapal-kapal tanker.

Pihak Teheran mengindikasikan bahwa mereka tidak bersedia merundingkan program nuklirnya dan hanya akan membuka jalur tersebut jika diberikan bayaran berupa biaya transit, sebuah konsesi yang dikhawatirkan akan menciptakan preseden buruk di jalur pelayaran internasional.

Trump secara publik tetap menunjukkan sikap optimistis dengan mengklaim melalui media sosial bahwa Iran sedang berada dalam kondisi runtuh dan sangat menginginkan Amerika Serikat segera membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, fakta menunjukkan bahwa putaran negosiasi sebelumnya berakhir tanpa hasil, bahkan upaya terbaru dari utusan Timur Tengah, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dihentikan secara mendadak oleh Trump sendiri.

Pemerintahan Trump pada dasarnya berupaya keras menghindari penandatanganan kesepakatan yang dapat memperlihatkan kegagalan Gedung Putih dalam mencapai target utamanya di Iran.

Hal tersebut dikhawatirkan akan terlihat mencolok jika dibandingkan dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yakni perjanjian era Obama tahun 2015 yang membatasi hak Iran dalam pengayaan uranium meski tidak menghapusnya secara total.

Sebagaimana diketahui, Trump telah menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian internasional tersebut pada tahun 2018.

Mantan negosiator JCPOA menyatakan bahwa langkah Iran menutup Selat Hormuz—sebuah tindakan ekstrem yang belum pernah diambil sebelumnya—telah mengubah dinamika negosiasi secara fundamental.

Saat ini, Iran memiliki daya tawar yang dianggap jauh lebih praktis dan efektif dibandingkan dengan kepemilikan senjata nuklir itu sendiri.

Pilihan-pilihan lain yang tersedia bagi Trump juga dianggap tidak memiliki daya tarik yang menguntungkan.

Salah satu pilihannya adalah melakukan eskalasi militer untuk membuka paksa selat tersebut, namun operasi ini diprediksi akan jauh lebih sulit dibandingkan dengan operasi pengawalan pada “perang tanker” di pertengahan 1980-an.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button