SOSOK

Ulama Besar Syekh Hasan Hito Wafat

Dari Yordania, ia melakukan perjalanan ke Kairo. Situasi politik di Kairo saat itu tegang, dan ia ditolak masuk dan mau dikembalikan ke Suriah. Ia menolak dan bersikeras untuk tinggal, tetap berada di bandara hingga keputusan luar biasa dikeluarkan yang mengizinkannya masuk.

Petugas imigrasi di Cairo International Airport berkata tegas kepadanya, “Kamu harus kembali ke Yordania dengan pesawat yang kamu tumpangi tadi.” Hasan pun menolak. “Aku tidak akan kembali. Aku sudah berjuang setengah mati. Aku tidak mau pulang.”

Tak lama kemudian datang seorang perwira polisi berpangkat tinggi. Dengan nada lembut ia berkata, “Nak, kamu harus kembali. Ada lebih dari dua puluh orang yang nasibnya sama seperti kamu.”

Namun jawabannya tetap sama, “Aku tidak akan kembali. Ambil saja pasporku, tiketku, dan barang-barangku. Aku tetap tidak mau pulang.” Inilah semangat yang sesungguhnya: sekali tekad, pantang mundur. Dan akhirnya kabar gembira pun datang. Ada pengecualian khusus dari Menteri Dalam Negeri Mesir yang ‘mengizinkan‘ Hasan masuk ke Kairo.

Tatkala ingin mendaftar di Universitas Al-Azhar, ia juga menghadapi beberapa kesulitan, diantaranya karena ia memiliki ijazah sekolah menengah di bidang sains, sementara aturan mensyaratkan mereka yang ingin mendaftar di Fakultas Syariah mesti memiliki ijazah di bidang humaniora. Namun, Allah memudahkan pendaftarannya, dan setelah perjuangan panjang dan melewati beberapa ujian simulasi, ia pun lolos dan diterima masuk.

Pada awal studinya, ia hidup tanpa beasiswa, dan keluarganya tidak mendukungnya secara finansial karena dianggap tidak taat kepada mereka. Ia pun hidup dalam kemiskinan untuk mengejar ilmu hukum Islam. Kemudian, Allah Yang Maha Kuasa meringankan kesulitannya, berhasil mendapat beasiswa dan berdamai dengan keluarganya, sehingga ia dapat sepenuhnya mengabdikan diri pada studinya.

Untuk bertahan kuliah di Al Azhar, ia sering menjalani puasa seperti puasa Nabi Daud, sehari berpuasa, sehari berbuka. Bahkan sering kali, menu berbukanya hanya sepotong roti.

Dalam perjalanannya menuntut ilmu di Al-Azhar, ada dua senior yang sangat berjasa bagi Syekh Hasan Hito.

Pertama, Syekh Nuruddin Itr. Dialah yang membantu Hasan masuk ke Al-Azhar. Saat itu Hasan tiba di Mesir pada akhir tahun pelajaran, secara administratif hampir mustahil untuk diterima. Namun dengan bantuan dan rekomendasi Nuruddin Itr, pintu itu akhirnya terbuka.

Kedua, Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi. Al-Buthi kerap membantu biaya hidupnya, karena sejak keberangkatannya, kiriman dana dari Suriah terputus dan seluruh akses finansialnya tertutup. Dalam kondisi serba terbatas, Hasan sering pergi ke toko kitab. Ia membuka halaman demi halaman, menatap buku-buku yang ingin ia miliki, tetapi tidak mampu membelinya. Ia hanya bisa menyalin dan mencatat pada lembaran-lembaran kosong.

Syekh Hasan pernah mengungkapkan makna dari masa-masa itu: “Aku tidak memiliki uang untuk membeli kitab, maka aku membeli ilmu itu dengan tanganku, aku menyalinnya. Setiap huruf yang kutulis membuatku semakin memahaminya.”

Ia melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar hingga meraih gelar doktor dalam bidang Usul al-Fiqh. Setelah itu, ia bekerja sebagai guru di Kuwait dan aktif dalam kegiatan dakwah Islam, serta berkontribusi dalam penyusunan “Ensiklopedia Yurisprudensi Islam”.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button