SOSOK

Ulama Besar Syekh Hasan Hito Wafat

Guru-gurunya

  • Syekh Shahata Muhammad Shahata, darinya beliau belajar Fiqh.
  • Syekh Mahmoud Abdel-Dayem, darinya beliau belajar Tauhid dan Fiqh Syafi’i.
  • Syekh Mustafa Mujahid Abdel-Rahman, darinya beliau belajar Fiqh, prinsip-prinsipnya, dan Tafsir.
  • Syekh Mustafa Abdel-Khaliq, darinya beliau belajar prinsip-prinsip Fiqh dan tata bahasa.
  • Syekh Abdel-Ghani Abdel-Khaliq, darinya beliau belajar prinsip-prinsip yurisprudensi Islam (Usul al-Fiqh).
  • Syekh Jad al-Rab Ramadan, beliau belajar yurisprudensi Syafi’i dengannya.
  • Muhammad Sulayman al-Shandawili, beliau belajar yurisprudensi Islam (Usul al-Fiqh) dengannya. Riwayat Hafs dan Shu’bah dari ‘Asim, dan bacaan Qalun dan Warsh.
  • Syekh Taha al-Dinari.
  • Syekh Hasan Wahdan.
  • Syekh al-Husayn al-Sheikh, beliau belajar yurisprudensi komparatif dengannya.
  • Syekh Kamil Hasan, beliau belajar tafsir dengannya.
  • Syekh Muhammad ‘Amara, beliau belajar tata bahasa dengannya.
  • Syekh Muhammad ‘Ali al-Najjar, beliau belajar tata bahasa dengannya.

Buku-bukunya

Syekh Hasan Hito telah menulis sejumlah buku, antara lain:

  1. Hadits Mursal: Otoritas dan Pengaruhnya.
  2. Panduan Ringkas Prinsip-Prinsip Perundang-undangan Islam.
  3. Mengungkap Sunnah Qunut dalam Shalat Subuh.
  4. Al-Imtaa’ fi Ahkam al-Rida’ (Kenikmatan dalam Hukum-Hukum tentang (Menyusui).
  5. Agama dan Sains.
  6. Akal dan Hal Gaib.
  7. Orang yang Sok Tahu.
  8. Ijtihad dan Kelas-kelas Mujtahid Syafi’i.
  9. Mukjizat Ilmiah Al-Qur’an dan Hal Gaib.
  10. Ringkasan Prinsip-prinsip Fiqih Islam.
  11. Imam al-Shirazi: Kehidupan dan Prinsip-prinsip Fiqih Islam, yang merupakan pengantar buku (Al-Tabsira fi Usul al-Fiqh karya al-Shirazi).

Ia juga unggul dalam menyunting beberapa buku, seperti al-Mankhul karya Imam al-Ghazali dan al-Tamhid karya al-Asnawi. Hal itu menambahkan sentuhan ilmiah yang mendalam pada warisan Islam yang mempertahankan posisinya di antara para ulama Hadits terkemuka di era modern.

Dalam perjalanan akademiknya, ia pernah mengabdi sebagai dosen di Fakultas Syariah Universitas Kuwait pada 1981–1995 serta di Fakultas Hukum universitas yang sama pada 1979–1981. Sebelumnya, ia mengajar di Ma’had Pendidikan Guru (Kulliyat at-Tarbiyah al-Asasiyah) pada periode 1975–1979.

Kiprahnya juga meluas ke Eropa. Ia pernah mengajar di sejumlah perguruan tinggi yang berafiliasi dengan Universitas Muhammad bin Saud serta dipercaya menjadi Direktur Syariah pada sebuah lembaga keuangan di Jerman. Ia juga mendirikan dan memimpin Markaz Ad-Duwali lil ‘Ulum al-Islamiyyah di Jerman sebagai pusat pengembangan studi Islam bagi komunitas Muslim Eropa.

Di Indonesia, perannya turut tercatat dalam penguatan pendidikan tinggi Islam, termasuk kontribusinya dalam proses pendirian dan pembinaan akademik STAI Imam Syafi’i. Keterlibatannya itu menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi ulama dan akademisi yang kokoh dalam metodologi usul fikih serta berpegang pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah berakidah Asy‘ariyah.

Secara khusus, pengaruh keilmuan Syekh Hasan Hito juga sangat terasa di lingkungan Ma’had Aly Andalusia. Sebagian besar dosen Ma’had Aly Andalusia merupakan murid langsung Prof. Dr. Syaikh Muhammad Hasan Hito. Bahkan, dalam mata kuliah usul fikih yang dikaji secara resmi di Ma’had Aly Andalusia, digunakan karyanya yang berjudul “Al-Wajiz fi Ushul at-Tasyri’ al-Islami” sebagai rujukan utama.

Dengan demikian, sanad keilmuan para mahasantri Ma’had Aly Andalusia dalam bidang usul fikih tersambung secara akademik kepada syekh Hasan Hito, memperkuat kesinambungan tradisi ilmiah yang otoritatif dan berakar pada manhaj yang kokoh.

Beberapa buku karya Syekh Hasan Hito telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, oleh muridnya yaitu Ustadz Ahmad Damsah Nasution (Pengajar di Pesantren at-Taqwa Depok). Yaitu: Peradaban Islam dan Materialisme Kontemporer, Agama dan Sains, Rasionalitas dan Metafisika, Prof Hasan Hito Menjawab Tantangan Pemikiran Modern dan Terjemah Mukjizat Al Quraniah al I’jaz al Ilmi wal Ghaibi.

Menurut Ustadz Ahmad Damsah, salah satu karya Syekh Hito yang paling agung dan dinantikan oleh banyak pengikut dan pecintanya adalah Mausu’ah al-Fiqhiyah yang ia beri nama “As Syamil lil Furu’ wal Masail”. Kitab ini membahas permasalahan fiqh secara menyeluruh, termasuk masalah-masalah fiqih kontemporer. Kitab ini direncanakan mencapai 150-160 jilid, namun takdir Allah berkata lain.

Sampai hari wafatnya, Syekh Hito telah menyelesaikan 75 jilid dan berakhir di bab ‘Washaya’. Semuanya ditulis oleh Syekh Hito dengan khat tangannya sejak tahun 1989 hingga 2026. Setiap jilidnya mencapai 500-600 halaman.

Ustadz Ahmad Damsah pernah mendengar langsung dari Syekh Hito bahwa kitab Mausu’ah al-Fiqhiyah-nya ditujukan untuk para ulama sebagai rujukan bagi mereka, bukan ditujukan untuk santri apalagi orang awam. “Seandainya proyek kitab Fiqih ini selesai, maka kitab ini menjadi fiqih terbesar sepanjang sejarah dunia,” kata Ustadz Ahmad.

“Syekh Ali Al Qyshaibati, salah satu guru kami di Jami’ah Imam Syafi’i Cianjur, mengatakan: ‘Perhatikan kegigihan Syekh Hito di umur yang sudah jalan menuju 85 tahun, ia masih merampungkan jilid 75. Himmah dan semangat yang luar biasa yang jarang ditemukan di era ini,“ terang Ustadz Ahmad.

Kegigihan Syekh Hasan Hito ini sebenarnya ditempa sejak muda. “Syekh Hito menyalin ulang kitab-kitab Usul Fiqh lebih dari 10 ribu halaman semasa mudanya, dan semuanya ditulis dengan tinta olehnya, bukan dengan komputer. Selain itu, seluruh karyanya yang berjumlah 108 kitab ditulis dengan tinta oleh tangan mulianya,“ jelas Ustadz Ahmad.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya
Back to top button