OASE

Ulama itu Pewaris Para Nabi

Apapun spesifikasi keahliannya, baik ulama ahli fiqih, ulama ahli hadits, ulama tasawuf dan yang cirikhas lainnya, sebagai ulama akan senantiasa bertakwa kepada Allah swt.yakni ‘imtitsalul awamir wajtunabu nawahihi’ -melaksanakan perintah Allah dan menjauhinya larangannya.

Jadi tidaklah benar klaim atau label yang diberikan kepada ulama spesifikasi ulama tasawuf itu lepas atau tidak terikat dengan syariat Islam, padahal ulama tasawuf maupun ulama ahli hadits atau ahli fiqih itu sama-sama ulama yang takut kepada Allah SWT.

KH. Sirajuddin Abbas yang dinukil dalam buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf karya Dr Mustafa Zahri hal. 139, memberikan batasan-batasan tentang pengertian tasawuf seperti dibawah ini :

  1. Nabi dan Sahabat-sahabat beliau beramal dan berbudi pekerti sesuai dengan tasawuf dan bahkan amal dan akhlak orang-orang tasawuf bersumber kepada amal Nabi dan Sahabat-sahabat beliau.
  2. Ajaran dalam tasawuf adalah ajaran-ajaran yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits dan amal Sahabat-sahabat Nabi, tidak ada yang menyimpang dari itu.

Jadi jelaslah bahwa ulama itu ilmu dan dakwahnya tidak menyelisihi isi kandungan Al-Qur’an dan Hadits Rasul.

Tidak Ma’shum

Umat harus tahu bahwa yang namanya ulama, kiai, ustaz itu manusia bukan Rasul dan bukan Nabi. Karenanya walau pewaris nabi itu hebat dan banyak jasanya mereka ‘tidak ma’shum’ tidak terjaga dari salah dan dosa.

Ulama, habaib, auliya menurut kalangan ulama tidaklah maksum. Dalam arti mungkin berbuat dosa. Abdul Halim bin Muhammad Al-Rumi dalam kitab Riyad Al-Sadat, hlm. 138, menyatakan:

والأنبياء معصومون ويعلمون أنهم أنبياء، ودلالة الكرامة على الولاية ليست قطعية، بل ظنية. وليس الأولياء معصومين، نعم قد يكون بعضهم محفوظا من جميع الذنوب صغيرها وكبيرها، وهذا نادر عزيز منهم، وأما الغالب فقد يقع منهم بعض الصغائر مع عدم الإصرار عليها

“Para Nabi itu ma’shum … sedangkan wali tidaklah ma’shum. Memang sebagian wali itu mahfudz (terpelihara) dari dosa kecil dan besar, tapi itu jarang sekali. Umumnya, sebagian wali itu melakukan sebagian dosa kecil namun tidak terus-menerus.”

Jadi yang ma’shum itu Rasul dan Nabi. Sedangkan wali termasuk ulama itu tidak ma’shum tetmasuk para habaib, ustaz dan para kiai juga demikian.

Oleh karena itu kita harus kritis terhadap para ulama dan para ustaz dan kiai. Dalam arti, hormati ucapan-ucapan mereka yang baik, dan ingkari ucapan mereka yang buruk. Tidak boleh terlalu anti sehingga menutup manfaat dari kebenaran yang mereka ucapkan; tidak boleh terlalu mempercayai atau mengidolakan sehingga menutup kesalahan yang mereka lakukan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button