Warisan Literasi dan Teladan Berharga dari Seorang Bapak
Bapak juga aktif menjadi amil zakat dan pernah dipercaya menjadi ketua panitia pemilu di desa.
Semangat membaca Bapak sangat luar biasa. Sebagai kepala sekolah, Bapak terkadang menerima kiriman buku dari Dinas Pendidikan setempat.
Buku-buku tersebut sering dibawa ke rumah terlebih dahulu sebelum diantar ke sekolah, sehingga saya bisa ikut membaca dan menikmatinya.
Bapak tidak pernah mengumpulkan anak-anaknya secara khusus untuk pengajian atau diceramahi. Beliau lebih sering memberikan nasihat secara singkat.
Bapak sangat jarang marah. Beliau baru akan marah jika anak-anaknya melakukan hal yang sudah keterlaluan.
Saya pernah dimarahi saat masih kecil karena tidak menunaikan salat Jumat di masjid dekat rumah, yaitu Masjid At-Taqwa, melainkan di Masjid Muntaha yang letaknya agak jauh.
Hal itu saya lakukan karena kiai saya menyatakan salat di Masjid At-Taqwa tidak sah akibat adanya tembok setinggi setengah meter yang memisahkan saf. Kiai tersebut bernama Sadeli (almarhum), yang sebenarnya adalah paman saya sendiri.
Kiai Sadeli merupakan seorang kiai berpaham NU yang sering mengajar kitab kuning sambil merokok. Mendengar nasihat Bapak, saya akhirnya selalu salat di Masjid At-Taqwa.
Karena semangat membaca Bapak yang tinggi, beliau rutin berlangganan majalah Al-Muslimun dan Panji Masyarakat. Saya yang saat itu masih duduk di bangku SD/SMP sering ikut membaca majalah tersebut.
Bagian yang paling saya nikmati adalah cerita pendek bersambung karya Teguh Esha yang berjudul Ali Topan Santri Jalanan. Cerita tersebut mengisahkan seorang pemuda Muslim yang teguh dalam berislam, tetapi tetap menyukai musik, bioskop, dan hal modern lainnya.
Dalam mendidik anak-anaknya, Bapak tidak pernah menggurui melainkan cenderung mengarahkan.
Meskipun berlatar belakang Muhammadiyah, Bapak membiarkan anak-anaknya belajar kepada kiai-kiai NU di desa. Karena itulah, sejak kecil saya belajar kepada Kiai Sadeli, Kiai Kahar, Kiai Syamsul, dan ulama lainnya.
Selain berlangganan majalah Islam, Bapak selalu mengikuti perkembangan buku-buku Islam di tanah air.
Ketika saya menjadi mahasiswa di IPB sekitar tahun 1990, Bapak meminta saya membeli buku Lentera Hati karya Quraish Shihab dan Tafsir Al-Qur’an tentang Sosial Politik karya Dawam Rahardjo. Saya membeli kedua buku tersebut lalu mengirimkannya kepada Bapak.






