RESONANSI

Yang Tak Terlihat di Balik Boarding School: Ketika Kas Menjadi Prioritas, Guru Terlupakan

Tanpa Penjaminan Mutu, Sekolah Berjalan dengan Takdir

Masalah yang jauh lebih serius adalah absennya sistem penjaminan mutu atau quality assurance. Sebagian yayasan belum memiliki desain jelas mengenai arah perkembangan mutu jangka panjang.

Tidak ada standar mutu baku maupun audit akademik berkala di lembaga tersebut. Tidak ada indikator keberhasilan yang sama untuk seluruh unit pendidikan yang dikelola.

Akibatnya, mutu sekolah sering kali hanya bergantung pada figur kepala sekolahnya. Jika kepala sekolahnya kuat, sekolah ikut maju pesat.

Jika kepala sekolah berganti, sistem yang ada ikut berubah total. Yang bekerja di lapangan adalah individu, bukan sistem yang mapan.

Inilah sebabnya banyak boarding school berusia puluhan tahun tetapi pengelolaannya masih seperti lembaga baru. Tata kelolanya berjalan di tempat meskipun bangunan fisiknya semakin megah.

Guru Bukan Beban Anggaran

Di tengah lemahnya sistem tersebut, guru menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Mereka bukan hanya mengajar di kelas selama jam sekolah berlangsung.

Guru boarding school juga membangunkan santri sebelum Subuh dan mendampingi ibadah. Mereka membimbing hafalan, mengawasi asrama, hingga menjadi orang tua pengganti bagi para santri.

Lembaga menawarkan pendidikan selama dua puluh empat jam penuh kepada masyarakat. Namun, pengelolaan sumber daya manusianya masih mengikuti logika sekolah delapan jam.

Persoalan gaji yang rendah dan ketiadaan jaminan sosial memang nyata terjadi. Padahal, gaji hanyalah sebuah gejala dari masalah yang jauh lebih besar.

Persoalan mendasarnya terletak pada cara lembaga memandang keberadaan seorang guru. Gedung baru dapat dipotret untuk brosur, tetapi gedungnya tidak pernah mengajar.

Organisasi yang Berhenti Belajar

Peter Senge melalui konsep learning organization menjelaskan bahwa organisasi unggul adalah organisasi pembelajar. Organisasi seperti ini membangun budaya refleksi dan memperbaiki sistem secara konsisten.

Dalam konteks boarding school, ukuran keberhasilan bukan hanya bertambahnya jumlah santri. Mutu guru di dalamnya juga harus terus meningkat dari waktu ke waktu.

Sayangnya, budaya tersebut belum selalu tumbuh subur di berbagai lembaga. Guru yang menulis di media massa atau menerbitkan buku sering kali tidak diapresiasi.

Prestasi individu berhenti pada diri mereka sendiri dan tidak menjadi modal organisasi. Padahal, organisasi pembelajar selalu mengubah keberhasilan individu menjadi kekuatan institusi.

Mengangkat Orang, tetapi Tidak Menyiapkannya

Persoalan lain yang sering luput dari perhatian adalah pengembangan kepemimpinan. Tidak sedikit guru langsung diminta bekerja sebagai kepala sekolah tanpa orientasi jabatan.

Mereka diangkat tanpa pelatihan kepemimpinan, pendampingan, maupun uraian tugas yang jelas. Seolah-olah pengangkatan otomatis membuat seseorang langsung siap memimpin sebuah unit besar.

Padahal, kepemimpinan adalah kompetensi yang harus terus dipelajari dan diperbarui. Di organisasi sehat, promosi jabatan justru menjadi awal dari proses belajar intensif.

Setiap pemimpin baru harus memperoleh coaching dan pelatihan berkala. Dengan cara itulah organisasi memastikan pergantian personalia tidak menurunkan mutu pendidikan.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button