NUIM HIDAYAT

Trump, Netanyahu dan Islam

Presiden AS Donald Trump kini makin terkenal. Selain dicalonkan menjadi peraih nobel perdamaian, Trump juga dipuji karena usulan 20 untuk Gaza.

Meski usulan Trump itu penuh kontroversi, banyak pihak mendukungnya. Negara-negara Eropa dan negara-negara Arab mendukungnya. Kini usulan itu mulai diwujudkan dengan mulainya gencatan senjata antara Hamas dan Israel.

Usulan Trump itu meski didukung Hamas, namun masih banyak hal-hal yang perlu diperbaiki. Hamas masih enggan untuk meletakkan senjata, di samping juga tidak setuju Palestina akan dipimpin oleh koalisi internasional di bawah kepemimpinan Trump dan Tony Blair. Selain itu Hamas juga menolak sama sekali disingkirkan dari pemerintahan Palestina mendatang.

Mengapa usulan perdamaian Trump itu sangat menguntungkan Israel dan menyingkirkan Hamas dari pemerintahan Palestina? Ada apa Trump dengan Hamas? Ada apa Trump dengan Islam?

Jejak-jejak Trump perlu ditelusuri sehingga bisa diketahui kebijakannya yang diskriminatif terhadap Islam dan banyak menguntungkan Israel.

Sejak masa kampanye presiden 2016, Trump menjadikan Islam sebagai sasaran politik. Ia memperkenalkan kebijakan “Muslim Ban”, yaitu pelarangan warga dari beberapa negara Muslim memasuki AS. Kebijakan itu disebutnya sebagai “perlindungan terhadap terorisme”, namun dalam praktiknya merupakan bentuk diskriminasi sistematis terhadap umat Islam.

Trump pernah mengatakan secara terbuka menyatakan, “I think Islam hates us.” [Saya pikir Islam membenci kita]

Pernyataan ini tidak hanya menggeneralisasi lebih dari satu miliar Muslim di dunia, tetapi juga menunjukkan ketidaksediaannya memahami Islam sebagai agama yang kompleks dan beragam.

Dalam wawancara lain, Trump menegaskan kembali ketakutannya terhadap imigrasi Muslim: “We have a problem in this country. It’s called radical Islamic terrorism.” [Kita memiliki masalah di negara ini. Namanya terorisme Islam radikal]

Namun, istilah “Islamic terrorism” yang digunakan Trump justru memperkuat stereotip bahwa kekerasan adalah bagian inheren dari ajaran Islam, padahal akar kekerasan lebih sering bersifat politik dan struktural.

Dalam konteks politik domestik, Trump juga menyerang politisi Muslim dan pro-Palestina seperti Zohran Mamdani, anggota parlemen Demokrat dari New York. Saat Mamdani secara terbuka mengkritik genosida Israel terhadap warga Gaza, Trump menanggapi dengan nada sinis: “These people hate America and support terrorists.” [Orang-orang seperti ini membenci Amerika dan mendukung teroris]

Retorika ini menunjukkan bahwa bagi Trump, setiap pembelaan terhadap Palestina atau kritik terhadap Israel dianggap identik dengan dukungan terhadap terorisme — narasi yang telah lama digunakan untuk membungkam solidaritas terhadap dunia Muslim.

1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button