OPINI

Trump Pilih Damai dengan Iran

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun, Ternate dan Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja sama Internasional MUI Pusat.

Presiden AS Donald Trump menyatakan optimisme bahwa kesepakatan dengan Iran akan tercapai “dalam minggu depan” untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz dalam sebuah wawancara dengan ABC News pada Senin (01/06/2026).

Trump mengakui sempat ada sedikit kendala akibat ketidaksenangan Iran atas serangan Israel di Lebanon, namun ia mengklaim mampu membalikkannya dengan sangat cepat.

Lebih lanjut, ia menyebut telah berbicara langsung dengan Hizbullah dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serta memerintahkan kedua pihak untuk berhenti saling menembak.

Pernyataan ini mengejutkan, mengingat retorika Trump terhadap Iran selama ini cenderung keras dan penuh ancaman.

“Damai Lebih Baik dari Kemenangan Militer”

Trump bahkan menyebut bahwa perjanjian damai dengan Iran bisa lebih baik daripada kemenangan militer.

Pernyataan tersebut kontras dengan pendekatan sebelumnya yang lebih mengedepankan tekanan maksimal dan aksi militer.

Meskipun demikian, ia mengakui bahwa proses negosiasi tidak sederhana karena melibatkan negara yang sangat besar dengan tingkat permusuhan mendalam.

Mengenai nota kesepahaman untuk membuka kembali Selat Hormuz, Trump mengindikasikan bahwa ia belum sepenuhnya menyetujuinya karena masih ada beberapa poin lagi yang harus didapatkan.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun optimistis, kesepakatan final masih menyisakan ruang negosiasi yang alot.

Sikap Trump yang tiba-tiba memilih damai dengan Iran patut dicermati. Di satu sisi, hal ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi global akhirnya memaksa Washington mencari jalan keluar diplomatik setelah berbulan-bulan konflik bersenjata yang melibatkan serangan langsung AS-Israel ke Iran, serta blokade Selat Hormuz oleh Teheran.

Pernyataan Trump bahwa damai lebih baik dari kemenangan militer mencerminkan realitas bahwa perang terbuka dengan Iran—yang memiliki kekuatan proksi di seluruh kawasan—tidak akan pernah berujung pada kemenangan cepat.

Namun di sisi lain, pernyataan Trump bahwa ia berbicara langsung dengan Hizbullah patut dipertanyakan karena AS secara resmi menetapkan Hizbullah sebagai organisasi teroris. Sangat mungkin komunikasi tersebut dilakukan melalui perantara.

1 2Laman berikutnya
Back to top button