NUIM HIDAYAT

Pesantren dan Tradisi Menulis Kita

Ada dua pesantren yang saya kenal, mempunyai tradisi menulis yang kuat. Pertama, adalah Pesantren Elkisi Mojokerto, Jawa Timur. Kedua, Pesantren At-Taqwa Depok, Jawa Barat.

Di Pesantren Elkisi, murid-murid SMA diwajibkan untuk membuat karya tulis, yakni buku. Kelas 12 digembleng oleh guru-guru agar bisa membuat tulisan yang utuh yang dapat dinikmati adik-adik kelasnya. Kini karya-karya mereka dapat dinikmati di perpustakaan Elkisi.

Sedangkan di Pesantren At-Taqwa, santri-santri sudah dididik menulis sejak SMP. Mereka dibina untuk membuat tulisan reportase, makalah ilmiah dan lain-lain. Di tingkat SMA mereka harus menulis makalah ilmiah tentang keislaman yang harus dipresentasikan di luar negeri (Malaysia) dan sekolah-sekolah lain. Hasil tulisan ilmiah mereka tidak kalah dengan para sarjana.

Dalam sejarah intelektual Islam Nusantara, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan tertua, tetapi juga benteng ilmu pengetahuan yang melahirkan ribuan karya tulis, sejak era naskah-naskah kuno abad ke-12 hingga berkembangnya tradisi keilmuan modern.

Jejak awal literasi pesantren dapat ditelusuri melalui naskah-naskah kuno di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Pada abad ke-12, kawasan Nusantara sudah mengenal karya-karya keagamaan beraksara Arab–Jawi yang sebagian besar merupakan hasil ajaran para ulama yang singgah atau bermukim di pusat-pusat dakwah. Di antara naskah paling tua adalah Naskah Barus dan Samudera Pasai, yang mencerminkan dialog aktif antara para ulama lokal dengan tradisi keilmuan Timur Tengah.

Tradisi ini kemudian berkembang pesat pada abad ke-16 hingga 19, ketika ulama Nusantara mulai menulis karya-karya monumental dalam berbagai disiplin: tafsir, hadis, fikih, akhlak, tasawuf, hingga sejarah. Beberapa ulama yang mengukir fondasi tradisi tulis-menulis kita antara lain:

  • Syekh Abdurrauf As-Singkili (abad 17), penulis Tarjuman al-Mustafid, salah satu tafsir Al-Qur’an pertama di dunia Melayu.
  • Syekh Nuruddin ar-Raniri, ulama Aceh yang produktif menulis ensiklopedia akidah dan tasawuf.
  • Syekh Nawawi al-Bantani (abad 19), ulama yang menghasilkan lebih dari 100 kitab yang diajarkan di Haramain.
  • Syekh Ahmad Khatib Sambas, pelopor tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah yang menulis karya-karya tasawuf.
  • KH Hasyim Asy’ari, yang warisan tulisannya seperti Adabul ‘Alim wal-Muta’allim dan Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tetap menjadi rujukan di pesantren hingga kini.

Karya-karya mereka menunjukkan bahwa pesantren tidak pernah absen dari tradisi literasi. Menulis bukan aksesori, melainkan bagian dari ibadah ilmiah yang memperkuat peradaban.

Mengapa Pesantren Erat dengan Tradisi Menulis?

Ada beberapa alasan historis dan kultural mengapa pesantren tidak pernah terpisah dari tulisan.

  1. Menulis sebagai sarana menjaga sanad keilmuan

Dalam dunia Islam, ilmu diturunkan secara ber-sanad—bersambung dari guru ke murid. Menulis menjadi cara untuk mengikat ilmu agar tidak hilang. Seperti kata Imam Syafi’i: “Ilmu itu ibarat binatang buruan, dan tulisan adalah tali pengikatnya.”

Pesantren mengikat ilmu melalui halaqah, sorogan, bandongan, tetapi tulisan-lah yang mengabadikannya.

  1. Menulis sebagai bentuk ibadah

Banyak ulama menulis hingga usia senja, karena mereka meyakini bahwa amal jariyah tidak hanya melalui masjid atau wakaf, tetapi juga melalui ilmu tertulis. Imam Ghazali memandang pena sebagai “senjata ulama” yang menggerakkan perubahan sosial. Sedangkan Imam As-Suyuthi berkata bahwa aktivitas menulis adalah “amal para nabi dan pewarisnya.”

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button