LAPSUS

Kreatif, Pemuda Gaza Ubah Kendaraan Militer Jadi Sumber Listrik

Gaza (SI Online) – Di antara puing-puing kawasan Tel al-Hawa di Gaza City barat daya, sebuah kendaraan lapis baja bekas milik Israel yang terbengkalai kini memiliki fungsi tak terduga.

Bertirai kain merah dengan tulisan “Stasiun Pengisian Daya”, kendaraan tersebut menjadi sumber listrik yang langka di wilayah yang diselimuti kegelapan akibat konflik selama lebih dari dua tahun.

Yahya Khazeeq, pemuda berusia 27 tahun yang kembali ke Gaza utara setelah menyelamatkan diri ke selatan selama operasi militer Israel baru-baru ini, menemukan kendaraan tersebut saat berjalan melewati wilayah tempat tinggalnya yang hancur. Rumahnya hancur, dan, seperti ribuan warga lainnya, dia tengah mencari tempat berlindung dan cara untuk mencari nafkah.

“Kendaraan ini menjadi sumber ketakutan bagi warga Palestina selama serangan (militer Israel),” ungkap Khazeeq kepada Xinhua.

Kendaraan lapis baja tersebut, kata dia, menjadi saksi kematian, kehancuran, pengepungan, dan pengungsian di wilayah yang berulang kali menjadi sasaran sejak genosida dimulai pada 7 Oktober 2023 lalu.

Bertekad untuk mengubah simbol perang menjadi hal yang berguna, Khazeeq menghabiskan waktu satu pekan untuk membersihkan kendaraan itu dari puing-puing. Menggunakan panel surya dan bahan-bahan lokal yang tersedia, dia mengubah kendaraan pengangkut berukuran panjang 9 meter dengan bobot 60 ton itu menjadi stasiun pengisian daya ponsel bertenaga surya.

“Tujuannya bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga memberikan secercah harapan bagi warga yang berbulan-bulan hidup tanpa listrik dan layanan dasar akibat kerusakan yang meluas, pemadaman listrik, dan kelangkaan bahan bakar,” katanya.

Di seluruh Gaza, pos pengisian daya di luar ruangan (outdoor) kini menjadi hal biasa di tengah krisis listrik yang parah. Namun, hanya sedikit yang memiliki makna simbolis sebesar inisiatif yang dilakukan Khazeeq.

Seorang perempuan berjalan melewati kendaraan tentara Israel yang ditinggalkan yang sekarang menjadi stasiun pengisian daya, di Kota Gaza, pada 30/11/2025. [Xinhua]

“Ide Khazeeq sederhana tetapi luar biasa. Mengubah kendaraan yang dulu menebar ketakutan menjadi layanan untuk masyarakat itu memberikan harapan,” kata Mohammed Skeik, seorang warga yang mengantre di depan stasiun untuk mengisi daya ponselnya.

Bagi Om Ibrahim al-Jarou, yang terpaksa mengungsi dan tinggal bersama keluarganya di bangunan yang rusak tak jauh dari sana, stasiun itu meringankan perjuangan hariannya.

“Dulu, saya harus pergi jauh untuk mengisi daya ponsel atau senter. Melihat para pemuda mengubah sisa-sisa perang menjadi sesuatu yang bermanfaat memunculkan perasaan bahwa hidup dapat terus berlanjut, meski segala sesuatunya sulit,” ujarnya.

Sementara itu, Nasser al-Atrash, mantan pegawai pemerintah yang baru saja kembali ke rumahnya yang rusak, melihat makna yang lebih luas dari stasiun tersebut.

1 2Laman berikutnya
Back to top button