Menakar Kekuatan Indonesia dalam Pro-Kontra BOP
Oleh: Imanuddin Kamil, Sekretaris IKALI dan Pengurus JATTI.
Polemik keikutsertaan Indonesia di Board of Peace (BOP) atau Dewan Perdamaian Gaza terus bergulir. Menjadi perbincangan hangat di berbagai lini masa.
Perdebatan ini ada yang dipicu motivasi kecintaan pada Palestina dan perjuangan suci. Namun ada pula yang dipicu kepentingan politik sesaat.
Untuk poin kedua ini, biasanya perdebatannya lebih sering dibumbui sentimen politik yang akhirnya justru menjauhkan substansi pro kontra yang ada. Bahkan tak jarang isinya kemudian hanya luapan amarah yang ditumpahkan.
Sebagian besar kelompok yang tidak setuju dengan bergabungnya Indonesia di organisasi buatan Trump ini (dugaan penulis) didasari faktor keraguan dan ketidakyakinan dengan organisasi itu sendiri. Mereka merasa Indonesia sebagai negara muslim terbesar yang sangat peduli dengan perjuangan Palestina, tak rela jika dalam perjalanan organisasi ini justru menjelma menjadi pengkhianat bagi perjuangan bangsa Palestina.
Sementara kelompok yang tidak mempermasalahkan melihat dari sisi opportunity yang bisa dimanfaatkan bagi kebaikan Palestina. Singkatnya dalam logika kelompok ini, apapun peluang yang ada bagi proses perdamaian di Palestina, Indonesia bisa terlibat.
Masalahnya pada kelompok pertama adalah tidak adanya trust yang dapat menjamin kelompok ini percaya. Padahal mereka butuh jaminan dan kepercayaan jika organisasi yang dibentuk betul-betul membela kepentingan Palestina.
Sementara kelompok kedua masalahnya ada pada kepercayaan diri yang terlalu tinggi pada kemampuan memanfaatkan opportunity yang ada. Ibarat pepatah, lebih besar pasak dari pada tiang.
Pada akhirnya memang waktulah yang akan membuktikan. Sejarah yang menjadi saksi. Namun satu hal yang perlu diketahui bersama, bahwa bergabungnya Indonesia di BOP masih belum bersifat final. Karena itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan berlebihan.
Diskusi forum guru besar terkait masalah ini mengungkapkan kemungkinan DPR RI menjadi penentu sikap Indonesia ini. Apakah Indonesia terus berlanjut di BOP atau keluar?
Sebab terungkap bahwa diperlukan persetujuan DPR untuk keterlibatan negara dalam kerjasama internasional seperti ini.
Saat tulisan ini dibuat, Presiden juga mengundang ormas-ormas Islam, pimpinan pondok dan tokoh-tokoh Muslim untuk berdiskusi bersama yang kemungkinan besar di antara sekian topik pembicaraannya adalah soal BOP ini.
Sambil menunggu bagaimana DPR akan bersikap, dan juga bagaimana hasil diskusi dengan pimpinan ormas dan tokoh Islam, penulis melalui tulisan ini ingin memberikan challenge sekaligus masukan konstruktif. Bisa juga sebagai bentuk uji kelayakan bagi Indonesia dalam menumbuhkan trust dan membuktikan kemampuan dirinya yang oleh sebagian kelompok dianggap memiliki kemampuan di dunia internasional.
Di kancah dunia internasional saat ini, Indonesia sebetulnya memiliki tiga peran strategis yang bisa diandalkan dan dimaksimalkan. Jika peran strategis di dunia internasional ini berhasil dikapitalisasi menjadi sebuah kekuatan dan peluang “opportunity” positif, maka tidak menutup kemungkinan, bergabungnya Indonesia di BOP menjadi memiliki nilai strategis.






