Madrasah Ramadaniyyah: Evaluasi di Akhir Bulan Ramadhan
Jika bulan suci Ramadhan kita anggap sebagai salah satu bentuk pendidikan Islam, maka sudah tentu harus dilakukan evaluasi, sebab evaluasi merupakan salah satu komponen pendidikan.
Penulis ingat salah satu penjelasan dosen mata kuliah Evaluasi Pendidikan Agama Islam bahwa evaluasi dalam pendidikan itu sama dengan muhasabah. Jadi, evaluasi Ramadhan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah muhasabah terhadap aktivitas kita secara keseluruhan, khususnya puasa yang dilakukan sepanjang satu bulan penuh Ramadhan.
Dalam pandangan penulis, evaluasi yang baik dimulai dari diri sendiri. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis mengajak para pembaca yang budiman, marilah kita bermuhasabah diri di penghujung bulan Ramadhan ini: apakah puasa kita sudah sesuai dengan tuntunan Islam serta apakah puasa kita telah mencapai tujuan puasa itu sendiri, sehingga mampu mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dari hari-hari, minggu-minggu, dan bulan-bulan sebelumnya.
Memuhasabah Tujuan Puasa
Tujuan puasa adalah takwa. Takwa sendiri adalah upaya menyucikan hati dengan bertekad meninggalkan satu keburukan yang belum pernah dilakukan agar terhindar dari keburukan-keburukan yang lain.
Dengan puasa, seseorang menjadi lebih mudah untuk menjauhi segala keburukan karena, sebagaimana menurut Imam al-Ghazali, perut memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku lahir dan batin manusia.
demikian, ketakwaan dapat tercapai. Seseorang yang menahan lapar dan haus di siang hari akan cenderung lebih sedikit berbicara, sehingga ia memiliki waktu untuk tidur. Dengan begitu, ia tidak melakukan pembicaraan yang tidak bermanfaat, apalagi yang dilarang dalam Islam. Inilah alasan tidur seseorang dapat dinilai berpahala, sebab dengan tidur ia terhindar dari kemaksiatan.
Jika demikian tujuan puasa, maka marilah kita bermuhasabah: apakah puasa kita di bulan Ramadhan ini sudah menahan lisan kita dari perkataan yang haram atau tidak bermanfaat? Apakah puasa telah menahan mata dan telinga kita dari hal-hal yang diharamkan?
Apakah puasa kita telah membuat kita lebih giat dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, baik di siang maupun di malam hari? Ataukah sebaliknya, di bulan Ramadhan ini tidak ada peningkatan dalam setiap detik dan hembusan napas yang berlalu? Perilaku buruk kita yang dilakukan di bulan-bulan selain Ramadhan masih sama dan tidak ada perubahan.
Penumpukan sampah yang disebabkan oleh meningkatnya konsumsi masyarakat merupakan salah satu bentuk keburukan akibat berlebihan dalam makan dan minum. Sekarang marilah kita bermuhasabah: apakah sampah rumah tangga kita semakin berkurang setiap harinya dengan puasa yang kita lakukan, atau justru masih sama seperti bulan-bulan selain Ramadhan, atau bahkan semakin bertambah?
Badan sebagai Salah Satu Cermin
Di antara hikmah berpuasa adalah menyehatkan badan. Misalnya, dengan berpuasa, seseorang yang terbiasa mengonsumsi makanan dan minuman manis menjadi tidak terlalu rentan terkena diabetes. Demikian pula, yang sering mengonsumsi makanan berlemak menjadi lebih terjaga dari risiko naiknya kolesterol.
Jika demikian hikmah puasa, marilah kita bermuhasabah, misalnya dengan cek darah ke dokter: apakah puasa yang kita lakukan selama satu bulan penuh telah benar-benar memberikan pengaruh kesehatan yang nyata pada tubuh kita? Apakah gula darah kita menjadi naik? Apakah kolesterol kita menjadi naik? Kita bandingkan kondisi sebelum dan sesudah puasa; apakah ada perbedaan yang signifikan pada kesehatan kita?
Jika dikatakan bahwa badan merupakan cerminan jiwa (hati), maka melalui badan ini kita bisa mengetahui keadaan jiwa kita dan sejauh mana ketakwaan yang kita capai. Misalnya, ketika seseorang cek darah di akhir bulan Ramadhan, lalu diketahui bahwa gula darah dan kolesterolnya justru meningkat, maka patut dipertanyakan apakah puasa yang dilakukan sudah mencapai tujuannya, yakni meningkatkan ketakwaan.






