Niat yang Tak Terbang
Niat yang Terbit Sebelum Fajar
“Ma, sudah disiapkan dokumennya?” tanyaku dari balik pintu kamar yang masih tertutup rapat.
Hari ini, niat kami akhirnya mengemuka. Umrah. Lagi. Bukan untuk yang pertama, juga bukan yang terakhir.
Hanya sebuah ritual kerinduan yang sudah mendarah daging, sebuah janji kecil pada diri sendiri untuk kembali menyeka debu di pelataran Baitullah, menatap Ka’bah yang tak pernah lelah memanggil.
Kali ini, hanya kami berdua. Ketiga anak kami tertahan oleh tugas, cuti yang menipis, dan alasan kesehatan yang tak bisa ditawar. Istriku menjawab dari dalam, suaranya datar namun pasti.
“Sudah, Pa.”
Kami bergerak cepat. Menitip pesan pada asisten rumah tangga, mengunci rumah, memastikan tidak ada yang tertinggal.
Di dalam mobil, obrolan mengalir liar. Dari ketegangan geopolitik Iran, Amerika, dan Israel, hingga riuh rendah ekonomi domestik, PHK massal, dan pengangguran yang kian menganga.
Istriku menyebut nama tetangga dua rumah di sebelah kiri. Pak Rifki. Empat bulan tanpa pekerjaan. Usianya belum masuk pensiun. Alasannya masih kabut.
“Papalah yang harusnya nanya,” ucapnya, “kan sering ketemu di masjid.”
Aku mengiyakan dalam diam.
Pak Rifki memang sosok yang tak pernah absen. Maghrib, Isya, Subuh. Kecuali saat aku dinas, saf kami sering bersisian. Dia bahkan membiasakan tiga anak lelakinya ikut berjamaah.
Di mata komplek, dia lelaki yang taat, namun sekaligus sunyi.
Bayangan di Balik Pagar Komplek
Lingkungan perumahan sering kali menjadi cermin mini masyarakat. Di sana, kebaikan diukur dari daftar donasi, kehadiran di arisan, atau nama yang tercantum di plang sumbangan masjid.
Pak Rifki tak ada di sana. Rumahnya sederhana. Tak ada mobil mengilap di garasi, hanya empat motor yang usianya rata-rata satu dekade.
Kegiatan hariannya seolah terpetakan rapi: ke masjid, menghadiri takziah warga, lari pagi saat udara masih dingin.
Istriku pernah bercerita, beberapa tetangga bergumam. Katanya dia pelit. Katanya dia kurang pergaulan.
Aku selalu menepis. Menggunjingkan lelaki yang shalatnya tak pernah bolong adalah dosa yang berpindah sendiri.
Privasi adalah tembok yang tak boleh kita runtuhkan hanya karena rasa ingin tahu.
Tapi di balik kesunyian itu, ada beban yang tak terucap.
Subuh tadi, saat aku duduk di sebelahnya di saf kedua, wajah Pak Rifki tak mengkhianati apa-apa. Hanya kelelahan yang sangat halus, seperti debu tipis di kening yang tak bisa dihapus dengan wudhu.
“Kalau sudah berbulan-bulan, kasihan juga keluarganya,” gumam istriku di mobil.
“Dua anak kuliah, satu SMA.” Aku hanya mengangguk.
Dalam hati, aku tahu ada sesuatu yang sedang retak, perlahan, tanpa suara.






