#Bebaskan PalestinaOPINI

Global Sumud Flotilla Belum Menyerah

Serangan Israel terhadap sebagian armada flotila kami justru meyakinkan kami bahwa kami harus melanjutkan misi menuju Marmaris.

Oleh: Prof. Antonis Vradis*

Bayangkan skenario berikut: Anda dijadwalkan menaiki sebuah kapal layar sebagai bagian dari armada besar yang membawa bantuan kemanusiaan. Beberapa kapal dalam armada itu sudah berangkat lebih dulu, namun beberapa hari sebelum jadwal keberangkatan, kapal-kapal tersebut dicegat secara brutal oleh kekuatan asing di perairan internasional.

Pencegatan itu terjadi pada jarak 600 mil laut (1.100 km) dari pantai negara asing tersebut, yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum maritim internasional. Sedikitnya 30 rekan seperjalanan Anda terluka, dan setidaknya terdapat empat orang yang kemudian melaporkan adanya insiden kekerasan seksual.

Dua orang lainnya, yakni Saif Abu Keshek dan Thiago Ávila, dibawa paksa ke Israel untuk menghadapi tuduhan terorisme serta mengalami penyiksaan selama ditahan. Keduanya kemudian melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes hingga akhirnya pembebasan mereka diumumkan ke publik.

Secara jujur, setelah mengetahui semua risiko tersebut, apakah Anda akan tetap memilih untuk berlayar? Bahkan lebih jauh lagi, apakah Anda menaruh harapan bahwa mayoritas besar rekan perjalanan Anda juga akan tetap melanjutkan misi ini?

Bagi sebagian besar peserta Global Sumud Flotilla (GSF) yang belum diculik oleh angkatan laut Israel, jawaban atas pertanyaan itu sangat jelas. Kami menegaskan bahwa kami tetap berlayar sebagai bentuk perlawanan terhadap genosida dan wujud solidaritas kepada rakyat Palestina.

Armada kami terus bergerak maju meskipun kami mengalami atau mendengar langsung tentang pencegatan yang penuh kekerasan tersebut. Saat ini kami sedang menuju pelabuhan Marmaris di Turki untuk berkumpul kembali, dan saya menulis catatan ini dari atas salah satu kapal.

Sepanjang sejarahnya, flotilla menuju Gaza sering kali dianggap hanya sebagai sebuah aksi simbolis semata. Namun, kenyataannya misi-misi tersebut menghasilkan dampak nyata karena pada Oktober lalu misi GSF berhasil menambah tekanan internasional terhadap Israel.

Tekanan tersebut memaksa Israel untuk menerima gencatan senjata yang diumumkan hanya beberapa hari setelah insiden pencegatan brutal terjadi. Istilah “simbolis” sebenarnya lebih tepat digunakan untuk menyebut “gencatan senjata” tersebut karena tentara Israel tetap melakukan pembantaian terhadap warga Palestina.

Mereka terus membunuh pria, perempuan, hingga anak-anak serta menghalangi bantuan kemanusiaan dalam jumlah yang memadai untuk masuk ke Gaza. Padahal, setiap misi yang kami jalankan telah membantu mendelegitimasi taktik genosida dan perang yang dijalankan oleh negara Israel.

Dampak delegitimasi tersebut juga berlaku pada misi kali ini yang sudah memicu perdebatan internasional meskipun armada belum sepenuhnya berkumpul. Berbagai pertanyaan geopolitik pun muncul dan konvensi lama tentang kedaulatan maritim kini mulai dipertanyakan kembali oleh dunia.

Situasi ini memperlihatkan adanya pelanggaran hukum internasional, termasuk pertanyaan mengenai respons penjaga pantai Yunani terhadap sinyal darurat yang dikirimkan. Seharusnya mereka mencegah kapal penjara milik angkatan laut Israel meninggalkan pelabuhan Ierapetra di Kreta setelah menerima laporan penyiksaan terhadap aktivis internasional.

Kini, saat armada kami berlayar ke arah timur, kami memasuki wilayah maritim yang dipersengketakan antara Yunani dan Turki di Laut Aegea. Perselisihan mengenai yurisdiksi, perairan teritorial, dan zona penyelamatan ini telah menjadi konflik yang belum terselesaikan sejak era 1970-an.

1 2Laman berikutnya
Back to top button