Menarik, Sikap Amien Rais dan Habib Rizieq terhadap Presiden Prabowo
Dua tokoh Islam senior yang banyak menjadi panutan masyarakat Indonesia dalam sikap politiknya sangat menarik untuk dicermati. Mereka adalah mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, H.M. Amien Rais, dan Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq Syihab.
Keduanya merupakan pendukung utama Prabowo Subianto dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 dan 2019. Namun, pada Pilpres 2024, mereka beralih mendukung Anies Baswedan.
Mengapa mereka memilih Anies? Alasannya karena Anies jauh lebih muda dan mempunyai pemikiran yang cemerlang dibandingkan dengan Prabowo.
Mereka telah berinteraksi lama dengan Prabowo sehingga tentu mengetahui kelebihan dan kelemahannya. Mereka melihat Anies lebih cerdas, kreatif, memiliki pemahaman Islam serta ibadah yang baik, sekaligus mempunyai jiwa kepemimpinan serta manajemen yang bagus.
Bila Anies memimpin, mereka yakin Indonesia akan menjadi lebih baik. Anies juga diyakini mampu memberikan kenyamanan, baik bagi umat Islam yang mayoritas maupun non-Islam yang minoritas.
Maka tidak mengherankan jika keduanya kini tetap bersikap kritis terhadap Prabowo. Namun, hal yang menarik adalah keduanya tidak menginginkan Prabowo dijatuhkan sebelum Pilpres 2029.
Amien Rais dan Habib Rizieq bukan tidak tahu bahwa program dan sikap Prabowo banyak yang belum runtut. Mereka mengetahuinya.
Namun, mereka tidak ingin Indonesia menjadi kacau dan tidak menentu. Mereka juga menghindari timbulnya banyak korban jiwa jika Prabowo diturunkan di tengah jalan.
Amien Rais menyatakan, “Saya ingin mengingatkan kepada saudara-saudara bahwa ritme pergantian kekuasaan setiap lima tahun sekali sesuai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 harus kita pertahankan supaya tidak ada pemerintahan pusat yang diturunkan di tengah jalan. Ini prinsip penting yang harus kita pegang.”
Pendiri sekaligus mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyatakan bahwa pergantian presiden atau wakil presiden di tengah jalan hanya bisa dilakukan jika ada alasan yang bersifat luar biasa dan sangat istimewa.
“Misalnya sang presiden atau wakil presiden terbukti melakukan tindakan pidana berat seperti membocorkan rahasia negara kepada pihak asing demi mendapatkan imbalan materi atau keuangan, sehingga hakikatnya presiden atau wakil presiden telah menjual negara kepada pihak asing. Atau misalnya presiden dan wakil presiden tersangkut skandal moral yang menodai kebersihan kursi presiden atau kursi wakil presiden,” terang mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) ini.
Amien Rais melanjutkan, “Mengharapkan para anggota DPR dan MPR berani memakzulkan Presiden Prabowo rasanya mustahil. Semarah apa pun kita kepada Gibran Rakabuming Raka, dengan konstelasi pimpinan DPR dan MPR yang sekarang ini, kiranya melakukan impeachment terhadap Gibran juga amat sangat sulit.“
Selanjutnya, mantan Ketua Dewan Pakar ICMI ini mengingatkan bahwa pengalaman politik masa lalu yang mencatat pergantian lima presiden dalam enam tahun telah menguras energi nasional.
“Maka Presiden Prabowo kita beri fair chance, kesempatan yang wajar. Biarlah beliau bekerja sekeras-kerasnya untuk mewujudkan cita-citanya sampai 20 Oktober 2029. Kita bermain secara fair dan masuk akal saja,” tegas Amien Rais dalam video terbarunya.
Amien mungkin juga trauma dengan Reformasi 1998 yang menjatuhkan Pak Harto, mengingat ia berperan cukup besar di dalamnya. Ekskalasi politik kala itu menyebabkan Jakarta dibakar dan menimbulkan banyak korban jiwa.






