Gaya Hidup Sehat, Kuliner Kukus dan Rebus Kian Laris Manis di Pagi Hari
Jakarta (Suaraislam.id) — Pagi hari di salah satu stasiun tersibuk Jakarta dipadati oleh langkah kaki para pekerja komuter. Di antara kepadatan tersebut, Ella, seorang karyawati swasta di kawasan Sudirman, memulai ritual baru sebelum menuju ke tempat kerja.
Ia menyempatkan diri melipir ke sebuah lapak kuliner hangat di sudut stasiun yang menyajikan berbagai pilihan makanan non-minyak. Dengan mengeluarkan uang belasan ribu rupiah, ia sudah bisa membawa seporsi jagung manis dan ubi kukus untuk sarapan sehatnya.
“Alasan utamanya tentu kesehatan,” ujar Ella saat berbincang dengan Xinhua di Jakarta pada Jumat (19/6) mengenai kebiasaan barunya itu.
“Jujur di usia saya yang sudah 40 plus ini, metabolisme tubuh kan sudah gak kayak dulu lagi. Harus pintar-pintar kurangi gorengan dan makanan tinggi minyak atau gula. Makanan kukus dan rebus begini kan alami, minim proses, jadi merasa lebih aman saja di badan. Selain itu, ubi atau jagung itu seratnya tinggi, jadi kenyangnya awet tapi gak bikin begah,” tambah wanita yang bekerja di sebuah institusi pendidikan di Jakarta itu.
Bagi kaum komuter seperti Ella, kepraktisan menjadi alasan utama selain faktor kesehatan. Kuliner rebusan di stasiun disajikan dengan cepat, bersih, tidak berminyak di tangan, serta dijual dengan harga terjangkau berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi.
Potensi pasar dari meningkatnya kesadaran kesehatan masyarakat urban ini ditangkap dengan baik oleh para pelaku usaha mikro. Salah satunya adalah Hartono, pedagang makanan kukus di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, yang sudah berjualan sejak akhir tahun 2022.
“Alasan saya berjualan makanan kukus dan rebus ini sebenarnya cukup taktis,” ujar Hartono kepada Xinhua di Jakarta pada Jumat yang sama.
Hartono beralih ke menu rebusan karena harga minyak goreng yang fluktuatif serta sifat gorengan yang kurang menarik jika sudah dingin. Sebaliknya, makanan kukus dalam dandang selalu terjaga kehangatannya sehingga aromanya terus menggugah selera pembeli.
Untuk menjaga variasi, Hartono menyediakan menu lengkap seperti jagung manis, kacang tanah, ubi, telur, singkong, hingga talas dengan harga Rp5.000 sampai Rp15.000 per porsi. Lapaknya kerap dipadati pembeli pada jam pulang kerja dengan omzet harian mencapai Rp800.000 hingga Rp1,2 juta.
“Tren sehat ini menurut saya bukan musiman, tapi sudah jadi kebutuhan orang kota yang sibuk,” tuturnya dengan nada optimistis.
Pergeseran tren konsumsi ini diperkuat oleh data survei dari IDN Research Institute dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR). Hasil riset menunjukkan bahwa kudapan tradisional ini mulai digemari oleh generasi muda Indonesia.
Sebanyak 85,2 persen dari 628 responden milenial dan generasi Z kedapatan memilih makanan rebus atau kukus sebagai alternatif camilan. Sebanyak 56,3 persen di antaranya menyatakan bahwa pilihan tersebut didasari oleh alasan kesehatan dan penghematan pengeluaran.






