NASIONAL

LGBT Kian Marak, Kiai Didin: Pemerintah Harus Sigap, Kembangkan Perpres 111 Jadi Aturan Tegas

Bogor (Suaraislam.id) – Fenomena LGBT yang dinilai semakin marak tidak boleh terus dibiarkan tanpa langkah serius. Pemerintah pusat hingga kepala daerah didesak segera menghadirkan aturan tegas untuk mencegah penyebarannya dan melindungi masa depan generasi muda.

Guru Besar IPB University Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin menegaskan, masyarakat tidak boleh putus asa ataupun menyerah menghadapi fenomena LGBT. Sebab, sikap pasif justru dinilainya dapat membuat persoalan tersebut semakin meluas.

“Kita tidak boleh kemudian putus asa dalam menghadapi fenomena LGBT yang kian marak. Karena kalau kita putus asa, juga tambah banyak,” tegas Kiai Didin saat menyampaikan kajian di Masjid Ibn Khaldun, Bogor, Ahad (12/7/2026).

Kiai Didin menyoroti data terkait lelaki seks dengan lelaki (LSL) dan HIV di Kota Bogor. Ia menyebut sekitar 5.300 gay telah menjalani tes HIV dan ratusan di antaranya dinyatakan positif.

“Di Bogor sampai 5.300 gay yang tes HIV dan ratusannya positif. Penyakit HIV ini berbahaya,” ujarnya.

Menurut Kiai Didin, angka tersebut semestinya menjadi peringatan keras. Persoalan LGBT, kata dia, tidak boleh terus dipandang sebagai isu kecil atau dianggap tidak memiliki dampak terhadap masyarakat.

“Bukan masalah kecil. Ini masalah besar. Masalah masa depan kita dan anak-anak kita,” tegas Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) itu.

Kiai Didin turut menyinggung informasi mengenai pasangan sesama jenis yang bermesraan secara terbuka di sebuah kolam renang di Bogor.

“Saya dengar sekarang kasus di kolam renang di Bogor. Ada laki-laki bermesraan dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, melakukannya di tempat umum,” ungkapnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, kata Kiai Didin, teguran terhadap perilaku tersebut justru disebut mendapat respons berupa ejekan.

Kiai Didin menilai fenomena tersebut menunjukkan adanya tantangan besar dalam mendidik generasi mendatang. Menurutnya, orang tua dan pendidik kini bukan hanya menghadapi persoalan pendidikan formal, tetapi juga derasnya pengaruh lingkungan dan budaya.

“Kita bayangkan bagaimana mendidik anak-anak kita di masa mendatang. Ternyata bukan sekadar pendidikan, tetapi gangguannya luar biasa,” ujarnya.

Ia menegaskan masyarakat harus memiliki pemahaman yang sama bahwa persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan.

“Yang paling penting, pertama, kita punya pemahaman yang sama bahwa masalah LGBT ini tidak boleh dibiarkan. Kita harus berbuat sesuai dengan kemampuan kita,” katanya.

1 2Laman berikutnya
Back to top button