Kaum Sodom Era Modern: Gerakan LGBT yang Terus Meminta Validasi
Oleh: Albayyinah Putri (Pengajar dan Alumni Konkuk University)
Memangnya ada orang yang menginginkan keturunannya memiliki perilaku menyimpang? Golongan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) dahulu merupakan kelompok yang dianggap tabu untuk dibicarakan, ditunjukkan, ataupun diketahui secara terbuka.
Mereka sebelumnya takut karena berbeda dari norma umum dan merasa ada kesalahan dalam perilakunya, sehingga memilih bersembunyi dari keramaian. Namun, apa yang terjadi sekarang di tengah peradaban?
Mereka justru bangga menunjukkannya, menuntut untuk dihargai, dihormati, serta dianggap sama seperti masyarakat lain. Kelompok ini seolah haus akan validasi serta eksistensi, bahkan menggunakan hak asasi manusia (HAM) sebagai senjata penuntut kesetaraan.
Perlukah perilaku dari golongan menyimpang ini mendapatkan tempat di tengah masyarakat dengan alasan kemanusiaan? Kita harus menjawab pertanyaan tersebut dengan lantang, “Tentu saja tidak!”
Hari demi hari, perkembangan teknologi dan inovasi media sosial turut mendukung penyebaran opini secara bebas. Dalam hitungan jam, menit, bahkan detik, opini menyimpang tersebut dapat tersebar dengan cepat dan diterima oleh masyarakat.
Dahulu, perilaku menyimpang akan tetap dianggap menyimpang apa pun alasan pribadi seseorang. Namun, kondisi saat ini telah berubah drastis secara mengkhawatirkan.
Penyimpangan tersebut kini dibungkus dengan istilah-istilah baru yang dianggap keren, seperti acceptance, self-love, atau hak asasi agar bisa diterima oleh publik. Jika ada pihak yang menyerang, memberikan kritik, ataupun menyatakan tidak setuju, mereka serta-merta akan dicap sebagai kelompok intoleran atau pelaku ujaran kebencian.
Bahkan dalam isu-isu seperti ini, hukum bukannya menguatkan pandangan moral terhadap penyimpangan. Aturan baku yang ada justru dinilai memberikan keleluasaan bagi penyimpangan tersebut untuk berkembang.
Dahulu, kaum Sodom yang merupakan umat Nabi Luth a.s. dilaknat dan diazab oleh Allah Swt. karena melakukan kemaksiatan yang luar biasa. Mereka melakukan penyimpangan seksual berupa homoseksual dan kejahatan sosial lainnya, sehingga dihujani batu panas dan dibalikkan buminya.
Sayangnya, kisah nyata tersebut kini dianggap sebagai dongeng belaka oleh “kaum Sodom era modern”. Faktanya, mereka masih ada, bahkan terus berusaha melahirkan generasi-generasi baru untuk kelompoknya.
Sebagaimana dikutip dari Kompas.com, seorang mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) kepergok berciuman dengan mahasiswa sesama jenis dari perguruan tinggi lain. Kejadian itu menjadi viral setelah video rekaman keduanya tersebar luas di media sosial.
Keduanya kemudian diarak oleh rekan-rekannya dan berujung pada “sidang terbuka” di tengah halaman kampus pada 6 Juni 2026. Ayah dari mahasiswa PNJ tersebut sempat hadir hingga bersujud di tengah kerumunan massa untuk menyampaikan permohonan maaf.
Kasus memilukan ini ternyata berdampak luas terhadap kampus tetangganya, yaitu Universitas Indonesia (UI). Tim media mahasiswa mereka ikut mengangkat berita tersebut dengan anggapan adanya diskriminasi terhadap kaum marjinal.
Redaksi Suara Mahasiswa (Suma) UI mengunggah kiriman yang mengangkat isu Pride Month yang berkaitan erat dengan gerakan LGBT, sebagaimana dilaporkan mui.or.id pada 14 Juni 2026. Mereka mengangkat isu tersebut dan menyandarkannya pada nilai Pancasila, yaitu sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.






