Petuah Guru Kehidupan
Sejatinya, hidup ini adalah perjuangan untuk meraih kemuliaan. Meskipun demikian, manusia sebagai mahkluk yang mulia karena diciptakan Allah SWT. Yang Maha Mulia, bisa saja terjerembab bahkan lebih hina dibandingkan makhluk lain. Oleh karenanya, manusia dituntut agar menjaga kemuliaan tersebut dengan jalan yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Jika tidak, manusia akan menjadi makhluk yang sesat dan buruk melebihi bintang ternak (QS. Al-A’raf[7]: 179).
Jika kemuliaan (kehormatan) diraih dengan perjuangan, maka perjuangan pun menuntut pengorbanan. Tidak ada perjuangan yang dilalui oleh para nabi dan rasul serta orang-orang saleh terdahulu yang mudah, akan tetapi penuh ujian dan ancaman, boikot dan pengusiran. Tidak ada pula perjuangan yang akan lepas dari pengorbanan, baik fisik, tenaga, waktu, pikiran, harta, keluarga bahkan kehilangan nyawa. Pengorbanan itulah yang dimaknai dengan jihad fii sabilillah (QS. Al-Baqarah[2]: 214).
Siapa saja yang menempuh jihad tersebut, maka di ujung perjalanan akan meraih kemuliaan. Namun, siapa saja yang menghindari apalagi menentangnya, maka akan hina di hadapan manusia dan Allah SWT. Bagi para pejuang, bahwa kehidupan dunia ini hanya menyediakan dua pilihan, yakni hidup dalam kemuliaan atau mati dalam kesyahidan (’isy kariiman aw mut syahiidan).
Agama mendorong kita untuk memilih jalan perjuangan yakni menolong agama Allah SWT. Berjihad melawan kolonialisme, sekularisme, pluralisme, liberalisme dan faham sesat lainnya. Termasuk menolak propaganda dan promosi LGBTQ (lesbian, gay, biseksual, transgender dan queer) yang didanai PBB dengan alasan hak asasi manusia. Padahal, perbuatan tersebut merupakan penyimpangan seksual dan bertentangan dengan fitrah manusia yang akan menghancurkan peradaban seperti kaum Nabi Luth as dahulu (QS. Al-A’raf[7]:80-81).
Perjuangan untuk meraih kemuliaan harus mencakup seluruh aspek kehidupan, seperti militer, politik, hukum, ekonomi, sosil budaya, perdagangan, pendidikan dan dakwah. Setiap muslim wajib mengambil peran dalam bidang-bidang tersebut yang sesuai dengan kapasitas dan keahlian agar dunia ini berada dalam genggaman orang-orang beriman. Sebab, jika dalam berbagai aspek tersebut dikuasai orang jahat, maka kehidupan akan semakin hancur dan tak berkeadaban.
Untuk itu, diperlukan para pejuang yang tangguh agar gerakan dakwah tertata rapi dalam sistem yang utuh dan komprehensif (QS. Al-Isra` [17]: 81). Seperti pesan Imam Ali Bin Abi Thalib Kw. bahwa kejahatan yang diorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir (al-haqqu bilaa nidzaamin yaghlibuhul baahtil bin nidzaam).
Petuah Guru Kehidupan, Prof. KH. Didin Hafdihuddin menegaskan tiga syarat yang wajib dipenuhi, baik sebagai guru (da’i) yang menjadi pewaris para nabi, maupun pengelola lembaga pendidkan yakni;
Pertama, ikhlashun niyaah (niat yang ikhlas). Niat adalah tekad dan motivasi sejak hati dan pikiran telah azam (bulat) untuk melangkah. Bukan sekedar niat, tapi ketulusan atau kebersihan dari segala macam dorongan dan keinginan duniawi. Niat bersih bisa saja ternondai oleh kepentingan pramatis yang menggoda dan merusak keikhlasan. Dahulu, ketika Nabi SAW. hendak hijrah, beliau menekankan pentingnya niat yang tulus sebagai pangkal perjuangan yang berat. Sebab, apa yang diniatkan itu pula yang didapatkan.
Jika niat demi duniawi, maka itu pula yang diproleh. Tapi, jika niat lillahi ta’ala dan li i’laai kalimatillah (semata untuk meninggikan agama Allah), maka dunia pun akan menyertai (HR. Bukhari). Meskipun niat sebagai dasar sudah benar dan bersih, namun boleh jadi berubah haluan yang menyebabkan ujung perjalanan salah tujuan (suul khatimah). Oleh karena itu, Nabi SAW. juga pernah berpesan, bahwa amal perbuatan itu juga dinilai pada ujungnya (HR. Bukhari). Artinya, kedua hadits di atas harus dibaca dalam satu tarikan nafas, yakni niat di pangkal dan hasil di ujung harus terjaga demi meraih keridhaan-Nya (QS. An-Nisa[4]: `114).
Kedua, mujahadah (sungguh-sungguh). Jika niat bersih mendasari amal (tindakan), maka kesungguhan adalah syarat mutlak meraih keberhasilan. Dalam setiap kesungguhan tidak menyisakan sedikit pun ruang keraguan dan kedustaan. Keraguan akan menimbulkan kerisauan yang berujung kegagalan. Begitu pun, kedustaan akan memunculkan keretakan dan putus asa (pesimis). Selagi kedua virus ini masih bercokol dalam hati dan pikiran, maka perjuangan akan menghadapi kegagalan (HR. Ahmad).
Kesungguhan akan tampak pada dua ikhtiar yakni jalan darat (profesionalitas) dan jalan langit (spiritualitas). Dimensi profesinalitas mencakup segala upaya dan kemampuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan, pengalaman, kearifan dan teknologi mutakhir. Sementara, jalan spritualitas adalah upaya batin untuk mendekat dan menggantungkan segala harapan dan pertolongan hanya kepada Allah SWT. (QS. Ath-Thalaq[65]: 2-5). Untuk itu perlu kesadaran, bahwa menolong agama Allah akan meneguhkan pijakan kaki di muka bumi (QS. Muhammad[47]: 7) dan membuka pintu kejayaan dunia (QS. Al-Ankabut[29]: 69).
Ketiga, istiqomah (konsisten). Ketika niat sudah kuat dan tulus, lalu segala rencana aksi sudah dilakukan sepenuh hati, pikiran dan kemampuan, maka mesti dibalut dengan konsistensi. Sikap dan perilaku konsisten (fokus) akan mengikat dan menguatkan niat dan kesungguhan agar tetap menyatu, terarah dan berkelanjutan. Seringkali, kejenuhan atau keinginan akan sesuatu yang baru (viral) membuat fokus pecah, buyar dan berubah arah. Padahal, tren atau viral hanya sesaat dan tiba-tiba bisa berubah lagi sesuai keadaan atau skenario global.
Konsistensi yang dilandasi iman yang kuat akan memantapkan hati dalam menghadapi berbagai tantangan (QS. Fush-shilat[41]: 30). Walau niat sudah tulus dan dikerjakan dengan mujahadah, namun berubah arah maka tujuan akan berantakan. Nabi SAW. menegaskan bahwa konsisten atau sempurna dalam tindakan (itqan) terhadap suatu pekerjaan sangat dicintai Allah SWT. (HR. Thabrani).
Penulis menambahkan yang keempat, yakni muhasabah (introspeksi dan evaluasi). Dalam manajemen pendidikan dan dakwah, setiap perencanaan (planning) yang sudah dikoordinasikan (organizing), dilaksanakan (actuiting) dan dikontrol (controlling), mestilah dievaluasi (evaluating). Melalui evaluasi, kita bisa menilai secara sistematis dan mengukur keberhasilan program, serta menganalisis kendala yang dihdapi untuk melakukan perbaikan (QS. Al-Hasyr[59]: 18). Seorang pepimpin lembaga tidak sepatutnya memercayakan pekerjaan berjalan begitu saja. Akan tetapi, harus mengawasi dan mengevaluasi secara langsung agar segala penyimpangan dapat segera diperbaiki.
Walhasil, hanya orang-orang pilihan yang memilih jalan mendaki, sebab bertebaran duri dan kerikil tajam serta resiko yang membahayakan. Sebaliknya, kebanyakan orang memilih jalan mendatar dan menurun karena mudah dan menyenangkan. Meskipun pemerintah belum memberikan perhargaan yang layak kepada para pejuang (guru dan da’i), namun kemuliaan di sisi Allah SWT. telah menanti. Kebahagiaan seorang guru ketika muridnya memberi manfaat bagi masyarakat dan mereka tetap menyebut namanya di hadapan khalayak dan mendoakan setelah tiada. Itulah murid-murid beradab yang akan jaya sepanjang masa, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Allahu a’lam bish-shawab.
Dr. Hasan Basri Tanjung
(Dosen Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor – Ketua Yayasan Dinamika Umat)





