RESONANSI

Yang Tak Terlihat di Balik Boarding School: Ketika Kas Menjadi Prioritas, Guru Terlupakan

Oleh: Fajri, S.Pd.I, M.Ag, Gr., Guru & Alumnus Pascasarjana UIN Ar-raniry Banda Aceh

Tahun ajaran baru selalu menjadi musim optimisme bagi banyak boarding school di Indonesia. Brosur penerimaan santri baru kembali beredar, sementara gedung-gedung baru diresmikan.

Fasilitas penunjang ditambah, cabang baru dibuka, dan jumlah santri terus bertambah. Di mata masyarakat, pertumbuhan tersebut menjadi simbol keberhasilan lembaga pendidikan Islam.

Padahal, di balik optimisme itu, ada satu pertanyaan yang jarang sekali diajukan. Apakah mutu pendidikan juga bertumbuh secepat pertumbuhan bangunan fisiknya?

Pertanyaan ini penting karena sejarah pendidikan tidak pernah menilai sebuah lembaga dari luas tanah atau tingginya pagar. Pendidikan selalu diukur dari kualitas manusia yang berhasil dibentuk di dalamnya.

Bukan hanya santrinya, tetapi juga guru-guru yang setiap hari menghidupkan proses pendidikan. Di sinilah paradoks sebagian boarding school kita saat ini.

Banyak lembaga berhasil membangun infrastruktur fisik secara masif. Namun, mereka belum sepenuhnya berhasil membangun sistem yang membuat mutu pendidikan terus meningkat.

Masalah ini tentu bukan semata-mata persoalan guru di kelas. Bukan pula sekadar persoalan besaran gaji yang diterima setiap bulan.

Akar persoalannya jauh lebih mendasar, yaitu paradigma tata kelola yayasan. Yayasan seharusnya tidak hanya mengurus aset, tetapi juga merancang mutu.

Yayasan Bukan Sekadar Pemilik, tetapi Arsitek Mutu

Dalam banyak lembaga pendidikan, yayasan dipahami sebatas badan hukum pengelola aset dan keuangan. Fungsi tersebut memang penting untuk memastikan operasional sekolah berjalan lancar.

Namun dalam organisasi pendidikan modern, tugas yayasan tidak berhenti pada urusan administratif semata. Yayasan seharusnya menjadi arsitek mutu pendidikan dari hulu hingga hilir.

Mereka bertanggung jawab merancang desain kurikulum dan standar pembelajaran yang jelas. Mulai dari pengembangan guru hingga pembinaan kepala sekolah harus menjadi fokus utama yayasan.

Budaya literasi, supervisi akademik, dan regenerasi kepemimpinan juga memerlukan perhatian serius. Sekolah tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri tanpa arahan strategis yang jelas.

Mutu harus dirancang, diawasi, dievaluasi, dan terus diperbaiki secara berkala. Sayangnya, fungsi strategis ini belum selalu hadir di sebagian boarding school.

Ketika Laporan Keuangan Lebih Penting daripada Laporan Mutu

Tidak sedikit yayasan yang sangat disiplin meminta laporan keuangan setiap bulannya. Berapa SPP yang masuk dan berapa tunggakan selalu menjadi topik utama pembahasan.

Semua aspek finansial itu memang penting bagi kelangsungan operasional sekolah. Namun, jauh lebih jarang terdengar pertanyaan mengenai perkembangan kualitas akademik guru.

Padahal, sekolah didirikan bukan sekadar untuk mengelola arus kas bulanan. Sekolah didirikan untuk membangun manusia yang berilmu dan berakhlak mulia.

Ketika laporan keuangan menjadi ukuran utama, orientasi pendidikan perlahan mulai bergeser. Hubungan antara yayasan dan sekolah berubah menjadi hubungan transaksional belaka.

Sekolah dipandang sebagai unit bisnis yang harus menghasilkan pemasukan finansial. Padahal, sekolah adalah komunitas ilmu yang harus terus bertumbuh dan berkembang.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button