KHOTBAH

Pendidikan Akhlak sebagai Solusi Utama Mengatasi Korupsi

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِه نَسْتَعِيْنُ عَلى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلى اٰلِه وَأَصْحَابِه وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. اما بعد. فيأيها الحاضرون, اوصيني واياكم بتقوى الله. اتقوا الله, في السر والعلن, فانه حبل الله المتين. قال الله تعالى في القران العظيم: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ‌حَقَّ ‌تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ.

Jemaah Salat Jumat yang Dirahmati Allah,

Marilah kita panjatkan rasa syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya, terutama nikmat iman dan Islam. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, dan para sahabat beliau yang menjadi teladan bagi kita melalui akhlak mereka yang mulia.

Sudah menjadi kewajiban seorang khatib untuk menyampaikan wasiat takwa dalam khotbahnya. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama meningkatkan dan memperkuat ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan bermuhasabah diri: sudahkah kita melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya? Sesungguhnya, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya itulah hakikat dari takwa kepada-Nya.

Jemaah Salat Jumat yang Dirahmati Allah,

Jika kita mencermati kondisi bangsa dan negara kita hari ini, salah satu persoalan terbesar yang merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah kejahatan korupsi. Korupsi telah merampas hak-hak rakyat, memperlambat pembangunan, merusak sistem keadilan, dan menyengsarakan jutaan jiwa yang menggantungkan harapannya pada tata kelola negara yang bersih.

Berbagai ikhtiar telah dilakukan oleh pemerintah dan lembaga penegak hukum. Undang-undang diperketat, kelembagaan diperkuat, audit keuangan dipercanggih, bahkan fasilitas dan gaji para pejabat tinggi kerap ditingkatkan dengan alasan agar mereka tidak tergiur untuk mengambil harta negara. Namun, fakta di lapangan kerap kali menunjukkan kenyataan yang amat menyedihkan: kenaikan pendapatan dan kecukupan materi tidak serta-merta menghentikan aksi korupsi. Mengapa demikian?

Jawabannya sederhana: Sebab akar masalah korupsi bukanlah kurangnya materi atau kecilnya pendapatan, melainkan kerakusan hati, keroposnya moral, dan penyakit jiwa yang ada dalam diri manusia.

Allah Swt. meyakinkan dan menegaskan tabiat dasar manusia dalam Al-Qur’an surah Al-‘Adiyat ayat 8:

وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ

“Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan.” (QS. Al-‘Adiyat: 8)

Maksud kata al-khair dalam ayat ini, sebagaimana dijelaskan oleh para ahli tafsir, adalah harta benda (al-māl). Allah menggambarkan bahwa manusia secara fitrah memiliki nafsu dan dorongan kecintaan yang sangat kuat terhadap kekayaan.

Nafsu kecintaan terhadap dunia (hubbud dunya) ini jika tidak dibimbing oleh iman dan dibentengi oleh akhlak yang mulia, tidak akan pernah ada batas kepuasannya. Rasulullah saw. bersabda dalam menggambarkan keserakahan manusia:

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ الترَابُ

“Seandainya manusia memiliki dua lembah berisi harta/emas, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut manusia kecuali tanah (kematian).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari sini kita menyadari, pejabat yang memiliki gaji ratusan juta rupiah pun tetap berpotensi korupsi jika hatinya dihinggapi sifat rakus dan tama’. Penambahan materi semata hanya memuaskan fisik, tetapi tidak akan pernah sanggup memuaskan nafsu keserakahan jiwa manusia.

Jemaah Salat Jumat yang Dirahmati Allah,

Islam sebagai agama yang sempurna (dīnun kāmil) tidak hanya mendiagnosis penyakit sosial ini, tetapi juga memberikan obat penawar yang sangat mujarab hingga ke akar-akarnya. Penawar tersebut adalah tazkiyatun nufūs (penyucian jiwa) dan pembersihan harta dari kecintaan yang berlebihan.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button