#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Selat Hormuz dan Jalan Buntu Perang

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate.

Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak di kawasan Teluk Oman. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi helikopter Angkatan Laut AS menembakkan dua rudal Hellfire ke kapal kargo M/V Vela Nova berbendera Panama.

Kapal kargo tersebut dituduh mencoba menerobos blokade militer AS menuju pelabuhan Iran. Hingga 11 Agustus 2026, CENTCOM mencatat telah mengalihkan rute 55 kapal komersial, melumpuhkan 3 kapal, dan menggeledah 2 kapal lainnya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump merespons tuntutan ganti rugi perang dari Iran dengan tuntutan balik atas kerusakan di berbagai negara. Tuntutan kompensasi tersebut dipandang sebagai strategi pengalihan isu yang memperumit pencarian solusi diplomatik.

Trump memilih memperluas negosiasi ke klaim historis yang tidak pernah menjadi agenda pembicaraan resmi. Tuntutan ini disinyalir lebih didasarkan pada kepentingan politik domestik menjelang pemilu di AS ketimbang niat tulus menyelesaikan konflik.

Dampak Ekonomi Global dan Penutupan Jalur Laut

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS tidak mengubah perilakunya. Akibatnya, lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok drastis dari 125–140 kapal per hari menjadi hanya 6 kapal.

Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak Brent sebesar 1,4 persen hingga mencapai level tergolong tinggi. Penutupan jalur yang dilalui 20 persen pasokan minyak dunia ini kian membebani perekonomian global, terutama di negara-negara berkembang.

Iran dengan tegas mengaitkan pembukaan Selat Hormuz dengan penghentian perang serta pencabutan blokade. Di sisi lain, AS bersikeras melindungi kepentingan strategis dan sekutu utamanya di kawasan Timur Tengah.

Kedua pihak tampak lebih tertarik pada kemenangan simbolis ketimbang solusi nyata di lapangan. Padahal, konflik bersenjata ini telah menelan banyak korban jiwa dan merusak stabilitas kawasan.

Konflik Identitas dan Jalan Keluar

Iran membangun identitas perlawanan berdasarkan ingatan kolektif atas dominasi imperialis masa lalu. Sementara itu, AS mengonstruksi Iran sebagai ancaman eksistensial demi menjaga hegemoni geopolitik energi.

Ketika kedua narasi ini bertemu di Selat Hormuz, yang terjadi adalah benturan kepentingan strategis dan identitas sejarah. Konflik ini membenturkan dua narasi besar yang sulit dipertemukan tanpa adanya kompromi.

Untuk keluar dari kebuntuan perang, kedua negara membutuhkan keberanian politik untuk menghentikan eskalasi. Kedua pihak perlu menyadari bahwa tidak ada kemenangan mutlak dalam peperangan modern.

Kerugian bersama akan terus bertumpuk jika pendekatan militer tetap diprioritaskan. Diplomsi yang serius dan berkeadilan merupakan bentuk kebijaksanaan tertinggi untuk mewujudkan perdamaian dunia.[]

Back to top button