JEJAK SEJARAH

Mengenal Lembaga Pendidikan di Era Rasulullah saw

Oleh: Imam Nur Suharno, Penulis Buku Muhammad Saw The Great Educator, serta Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.

Setiap bulan Rabiulawal, kaum muslimin memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Pada momentum ini, selain mengenal kepribadian Nabi saw., kita juga diajak mengenal lembaga pendidikan pada masa beliau yang menjadi sarana pembinaan para sahabat.

Pada masa Nabi Muhammad saw. terdapat beberapa lembaga sebagai pusat pendidikan. Lembaga-lembaga tersebut memang belum seperti lembaga pendidikan formal saat ini.

Namun, lembaga tersebut memiliki andil besar dalam memajukan pendidikan pada masa itu. Hal ini terlihat dari kemampuan para sahabat Nabi yang sangat luar biasa.

Misalnya, Umar bin Khattab sebagai ahli hukum dan pemerintahan, serta Abu Hurairah sebagai ahli hadis.

Selain itu, terdapat Salman al-Farisi sebagai ahli perbandingan agama Majusi, Nasrani, dan Islam, serta Ali bin Abi Thalib sebagai ahli hukum dan tafsir Al-Qur’an.

Lembaga pendidikan pada masa Nabi saw. itu, pertama, Darul Arqam. Rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam al-Makhzumi merupakan tempat pertama berkumpulnya para sahabat Nabi untuk belajar Islam.

Rumah tersebut menjadi lembaga pendidikan Islam pertama dengan pendidik pertama dan utamanya Nabi saw. sendiri. Beliau mengajarkan wahyu yang diterimanya kepada para sahabat.

Nabi membimbing sahabatnya untuk menghafal, menghayati, dan mengamalkan ayat suci yang diturunkan.

Di antara murid Nabi itu ialah Khadijah binti Khuwailid (istri Nabi) dan Ali bin Abi Thalib (anak paman Nabi). Selanjunya ada Zaid bin Haritsah (bekas budak Nabi yang kemudian menjadi anak angkatnya) serta Abu Bakar as-Siddiq (sahabat dekat Nabi).

Melalui Abu Bakar, banyak orang yang memeluk Islam dan ikut dalam pendidikan Nabi saw. Di antaranya Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam, serta Fathimah binti Khaththab beserta suaminya, Said bin Zaid.

Pada saat itu, para sahabat Nabi yang mendapatkan gemblengan secara langsung di lembaga pendidikan (al-Arqam) berjumlah 38 orang. Mereka terdiri atas golongan bangsawan, pedagang, dan hamba sahaya.

Pemilihan rumah al-Arqam sebagai pusat pendidikan setidaknya memiliki beberapa alasan, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Munir al-Ghadban dalam kitabnya, Manhaj Haraki dalam Sirah Nabi saw.

Alasannya, yaitu karena al-Arqam belum diketahui keislamannya dan al-Arqam berasal dari Bani Makhzum yang merupakan musuh bebuyutan Bani Hasyim. Selain itu, al-Arqam pada waktu masuk Islam masih berusia muda, yakni 16 tahun.

Sehingga, tatkala orang Quraisy mencari tempat pembinaan tersebut, tidak pernah terpikirkan oleh mereka untuk mencarinya di rumah seorang anak yang masih muda belia.

1 2Laman berikutnya
Back to top button