Ketika Umat Islam Membela Prancis, Satu Sisi Sejarah yang Jarang Dibicarakan
Ada sebuah ironi sejarah yang menarik untuk direnungkan: Prancis, negara yang pernah menjajah banyak negeri Muslim, justru pernah diselamatkan dan dibela oleh ribuan, bahkan ratusan ribu tentara Muslim dari wilayah jajahannya sendiri.
Dalam dua perang dunia, umat Islam dari Afrika Utara ikut mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan Prancis dan menghadapi kekuatan Nazi Jerman. Mereka datang dari Aljazair, Maroko, dan Tunisia. Mereka bertempur, terluka, dan banyak yang gugur jauh dari tanah kelahirannya.
Namun, sejarah ini bukan sekadar cerita tentang peperangan. Ada sisi lain yang menarik untuk dikaji: bagaimana hubungan panjang antara masyarakat Prancis dan dunia Islam ikut membentuk wajah masyarakat Prancis modern, termasuk tumbuhnya ketertarikan sebagian warga Prancis terhadap Islam.
Pengorbanan yang tidak boleh dilupakan
Ketika Perang Dunia I meletus pada 1914, Prancis membutuhkan kekuatan militer besar untuk menghadapi Jerman. Pemerintah Prancis kemudian memobilisasi penduduk dari wilayah koloninya.
Menurut kajian sejarah yang diterbitkan dalam Middle Eastern Studies (2023), sekitar 294.000 penduduk asli Afrika Utara dimobilisasi dan dikirim ke medan perang Eropa. Hampir 45.000 di antaranya tewas atau dinyatakan hilang.
Sebagian besar berasal dari masyarakat Muslim Aljazair, Maroko, dan Tunisia.
Mereka tidak hanya menjadi pelengkap kekuatan militer. Mereka berada di garis depan, menghadapi ancaman kematian yang sama dengan tentara Prancis lainnya.
Pengorbanan itu berlanjut dalam Perang Dunia II (1939–1945). Pasukan Muslim dari Afrika Utara kembali mengambil bagian dalam pertempuran melawan Jerman Nazi dan sekutunya.
Salah satu yang dikenal adalah pasukan Goumiers dari Maroko. Mereka berperan dalam kampanye militer Sekutu di Italia dan pembebasan sejumlah wilayah Prancis.
Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejarah perjuangan Prancis juga menyimpan lembaran penting tentang pengorbanan umat Islam.
Ironi kolonialisme: membela negeri yang menjajah
Di sinilah terdapat bagian sejarah yang patut direnungkan. Banyak tentara Muslim yang berjuang untuk Prancis berasal dari negeri-negeri yang justru berada di bawah kekuasaan kolonial Prancis.
Mereka membantu mempertahankan negara yang pada saat bersamaan belum memberikan kebebasan dan kesetaraan sepenuhnya kepada masyarakat asal mereka.
Sejarah mencatat bahwa pengorbanan tentara Muslim tersebut tidak serta-merta menghapus diskriminasi kolonial. Bahkan, penelitian sejarah menunjukkan bahwa keberanian mereka di medan perang berjalan berdampingan dengan sikap curiga, paternalistik, dan diskriminatif sebagian pejabat militer Prancis terhadap tentara Afrika Utara.
Ini menunjukkan bahwa hubungan Prancis dan umat Islam tidak pernah sesederhana hubungan antara dua kelompok yang saling berhadapan. Ada sejarah perjumpaan, pengorbanan, ketidakadilan, sekaligus pembauran sosial yang berlangsung selama beberapa generasi.
Islam bukan lagi sesuatu yang asing bagi masyarakat Prancis
Setelah berakhirnya perang dunia dan proses dekolonisasi, hubungan antara Prancis dan dunia Islam tidak terputus.
Jutaan orang dari kawasan Afrika Utara dan wilayah lain yang memiliki tradisi Islam menetap di Prancis. Mereka membangun keluarga, bekerja, mendirikan komunitas, dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Prancis.
Akibatnya, Islam tidak lagi sekadar agama yang dikenal melalui buku sejarah atau berita internasional. Islam hadir dalam kehidupan sehari-hari: melalui tetangga, rekan kerja, sahabat, keluarga, dan lingkungan sosial.
Perjumpaan langsung seperti ini memungkinkan terjadinya proses saling mengenal. Tidak sedikit orang yang kemudian tertarik mempelajari Islam lebih jauh setelah melihat kehidupan dan praktik keagamaan umat Islam di sekitarnya.
Dalam konteks inilah sejarah panjang hubungan Prancis dengan dunia Islam menjadi relevan untuk memahami dinamika keagamaan masyarakatnya sekarang.






