SUARA PEMBACA

Abaikan Sains dan Suara Rakyat, Libatkan Aparat, Maksa New Normal?

Asa Menuntaskan Wabah

Islam menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan segelintir manusia. Tegaknya syariah Islam secara kafah menjadi perisai bagi umat manusia. Islam menjaga agama, akal, jiwa, raga, harta, kehormatan dan generasi manusia tanpa memandang agama, bangsa, etnik, ras dan sukunya. Jaminan penjagaan ini berlaku tanpa memberatkan dan membingungkan umat, termasuk saat wabah melanda.

Ketika pandemi seperti saat ini. Mengendalikan dan mengatasi pandemi harus menjadi prioritas utama. Keselamatan nyawa rakyat harus didahulukan daripada kepentingan ekonomi. Apatah lagi hanya sekadar memenuhi kepentingan oligarki yaitu para kapitalis.

Dengan syariah Islam, mengendalikan dan menuntaskan wabah jauh lebih mudah. Nyawa rakyat terselamatkan. Ekonomi berjalan sesuai harapan. Tentunya tanpa mengabaikan sains dan suara kecemasan rakyat. Apatah lagi mengganggu syiar Islam dan ibadahnya.

Opsi lockdown dipilih sesuai tuntunan syariah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari wilayah itu.” (HR al-Bukhari).

Penerapan lockdown ini tentunya diimbangi dengan pemenuham kebutuhan pokok rakyat dengan penuh tanggung jawab. Sebab sudah menjadi kewajiban negara sebagai raain dan junnah bagi rakyat. Sebagaimana hadis Rasulullah Saw., “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Sains pun didukung dengan menggalakkan 3T, yakni test, treatment, tracing. Tujuannya tidak hanya untuk mencegah penyebaran virus dan mempercepat berhentinya wabah. Namun yang yang lebih penting, menyelamatkan nyawa umat manusia. Sebagaimana hadis Nabi Saw. “Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR an-Nasai, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi).

Dukungan terhadap sains tidak berhenti pada upaya kuratif. Namun juga, berlanjut pada upaya preventif di masa datang. Yakni dukungan negara untuk mendanai dan menggalakkan penelitian para sainstis untuk menemukan antivirus/vaksin dan metode pengobatan terbaru.

Inilah kecemerlangan solusi Islam dalam mengendalikan dan menuntaskan wabah. Tidak hanya menjaga harta (ekonomi), tapi juga nyawa manusia. Tidak kalah penting, ketika prosedural ini diterapkan, syiar Islam dan ibadah juga akan terus berkumandang dan ditegakkan. Sains dan teknologi juga tidak diabaikan.

Jelas, new normal merupakan keabnormalan baru guna menutupi kegagalan kapitalisme menuntaskan pandemi. Alih-alih mengundang solusi, justru mengundang masalah baru. Ancaman gelombang kedua dan bunuh diri massal pun menghantui rakyat.

Sungguh tidak ada asa lain, selain kembali pada kenormalan hakiki yang sesuai dengan fitrah. Kembali pada aturan Al-Khaliq Al-Mudabbir yang membawa berkah dan rahmat. Kembali pada din yang membawa selamat dunia akhirat. Yakni Islam yang diterapkan secara kafah dalam bingkai khilafah. Wallahu’alam bishshawwab.

Jannatu Naflah
Praktisi Pendidikan, Muslimah Peduli Negeri

Laman sebelumnya 1 2 3

Artikel Terkait

Back to top button