IBRAH

Ampunilah Aku, Ya Tuhanku

Dunia seketika terasa sangat gelap dan hampa bagi pandangan hidup saya akibat kemalangan ini. Uang sebesar delapan puluh empat pound yang saya kumpulkan dengan susah payah lenyap dalam tiga bulan. Hanya Allah yang tahu bagaimana beratnya saya mengumpulkan uang tersebut, dan hanya Dia yang berhak mengampuni cara keliru saya.

Sementara itu, aktivitas perdagangan di toko besar tempat saya bekerja terlihat semakin padat setiap harinya. Pemilik toko memutuskan membeli dua unit ruko di sebelahnya untuk memperluas area usaha dagangnya. Saya pun ikut kecipratan berkah dengan dipromosikan menjadi manajer keuangan dengan gaji yang lebih besar.

Saya kini memiliki ruang kerja pribadi yang posisinya bersebelahan langsung dengan ruangan Tuan Salamah. Setiap hari saya bertugas memasukkan uang ratusan pound ke dalam brankas di dalam ruangan tersebut. Saat pintu ruangan terkunci, saya sering memandangi tumpukan uang tunai itu dengan gejolak aneh di dada.

Pikiran buruk saya mulai membayangkan untuk mengambil uang tunai dalam jumlah besar tersebut ke dalam saku untuk membeli toko sendiri agar terlihat sukses. Saya ingin bertransformasi menjadi saudagar kaya yang dihormati layaknya posisi Tuan Salamah saat ini.

Di tengah pergulatan batin itu, saya jatuh cinta kepada seorang gadis cantik dari keluarga terhormat. Gadis itu adalah putri seorang pegawai negeri, dan saya bertekad menjadikannya pendamping hidup. Saya memberanikan diri datang bersama kakak saya untuk meminang gadis tersebut secara resmi.

Namun, begitu mengetahui bahwa saya hanyalah pekerja biasa dan bukan putra pemilik toko, mereka menolak. Pihak keluarga menolak lamaran tersebut mentah-mentah dan mengusir kami berdua dari rumah mereka. Penolakan keras itu membuat dunia saya terasa semakin pekat dan saya gagal melupakan gadis itu.

Gadis itu bernama Samira, dan bayangannya terus melekat di dalam pikiran saya sepanjang waktu. Pihak keluarganya bahkan mengancam akan melaporkan tindakan saya kepada Tuan Salamah jika saya nekat menemuinya. Mereka akhirnya benar-benar membuktikan ancaman tersebut dengan mendatangi majikan saya untuk melapor.

Akibat laporan itu, pada suatu pagi Tuan Salamah mendatangi saya dengan raut wajah sangat gusar. Beliau mencaci maki, menegur keras tindakan saya, serta melarang saya mendekati kawasan rumah Samira. Hari itu saya merasa sangat terpukul, terhina, hingga menangis sejadi-jadinya di dalam ruangan kerja.

Kebetulan kami memiliki seorang kerabat jauh yang berprofesi sebagai pedagang sukses di Arab Saudi. Beliau rutin datang berkunjung ke Kairo untuk berbelanja pasokan barang dari toko tempat saya bekerja. Hubungan pertemanan kami terjalin sangat akrab, dan beliau selalu menghabiskan waktu malamnya bersama saya.

Beliau datang berkunjung tepat di tengah masa-masa tersulit yang sedang saya hadapi saat itu. Sembari berjalan menyusuri jalanan kota Kairo, saya pun menceritakan seluruh kepedihan kisah asmara saya kepadanya.

Mendengar cerita itu, beliau menanyakan apakah Samira juga membalas perasaan cinta saya dengan sama besarnya. Saya langsung menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh keyakinan berdasarkan komitmen yang kami miliki selama ini.

Beliau lantas menyarankan sebuah ide nekat agar saya membawa lari Samira untuk dinikahi secara diam-diam. Saya seketika menghentikan langkah kaki karena merasa sangat terkejut dengan saran ekstrem yang beliau lontarkan.

Beliau meyakinkan saya bahwa proses pernikahan rahasia bisa tetap sah secara hukum agama yang berlaku. Caranya adalah dengan menunjuk salah satu kerabat laki-laki Samira yang bersedia menjadi wakil wali nikah mereka. Kami hanya perlu menghadirkan beberapa saksi untuk meresmikan ikatan suci tersebut di depan penghulu.

Ketika saya mempertanyakan tujuan destinasi kami setelah pelarian, beliau langsung memberikan jawaban yang menenangkan batin. Beliau menawarkan agar saya ikut bersamanya ke Arab Saudi dan berjanji menjamin kebutuhan hidup kami.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Back to top button