IBRAH

Ampunilah Aku, Ya Tuhanku

Di tengah ceritanya, beliau sering berhenti sejenak untuk meminta segelas air demi membasahi tenggorokannya yang kering. Setelah meminum air, beliau biasanya kebingungan dan menanyakan kembali kelanjutan alur cerita yang sempat terputus tadi. Saya pun dengan setia mengingatkan alur cerita terakhir sebelum beliau kembali melanjutkan untaian kisahnya secara perlahan.

Beliau mengingat kembali momen ketika rombongan pelarian mereka akhirnya tiba di pelabuhan Jeddah dengan selamat. Dari sana, mereka langsung melanjutkan perjalanan darat yang melelahkan menuju kota suci Madinah Al-Munawwarah waktu itu. Mereka memasuki kawasan Madinah pada waktu malam hari, jauh sebelum meletusnya peristiwa Perang Dunia Pertama.

Kondisi kota saat itu masih sangat sepi, tradisional, dan belum mengalami pembangunan modern seperti sekarang. Kerabat dagangnya ternyata telah menyewakan sebuah rumah tua berukuran kecil untuk tempat tinggal mereka selama di sana. Begitu melihat kondisi bangunan yang kumuh tersebut, Samira langsung berteriak histeris karena merasa sangat kecewa.

Dalam suasana sunyi, saya segera menyalakan lampu minyak untuk menerangi ruangan yang tampak gelap itu. Saya membalikkan badan, menatap wajah istri saya, lalu menegaskan kenyataan pahit mengenai rumah tinggal baru kami. Kami berdua melewatkan malam pertama tersebut dalam keheningan total tanpa saling bertegur sapa satu kata pun.

Wanita malang itu menolak untuk makan, tidak bisa memejamkan mata, bahkan enggan membersihkan diri sepanjang malam. Ia hanya duduk termenung menyandarkan pipi di tangannya sembari membiarkan air matanya mengalir deras dalam kesunyian. Pada momen tragis itulah, kesadaran saya tersentak dan saya baru menyadari betapa hancurnya hidup kami akibat dosa.

Beberapa waktu kemudian, saya menyewa sebuah ruko di Madinah untuk merintis kembali usaha perdagangan kain. Modal usaha tersebut murni menggunakan sisa uang tunai hasil curian dari brankas milik Tuan Salamah dahulu. Namun, kondisi kesehatan Samira justru terlihat semakin memprihatinkan dan fisiknya kian melemah dari hari ke hari.

Faktor lingkungan gang tempat tinggal kami yang kumuh dan kuno diduga memperparah kondisi depresi yang dialaminya. Samira melewatkan hari-harian dalam kesedihan yang mendalam dan selalu terjaga sepanjang malam dengan tatapan mata kosong. Saya sempat terheran-heran mengapa ia begitu menderita, padahal saya adalah pria yang ia pilih sebagai suami.

Namun, Samira sering berteriak bahwa pria yang dahulu ia cintai adalah seorang pemuda pekerja keras yang jujur. Ia merasa terpukul karena kenyataannya sekarang ia justru menikah dengan seorang pencuri dan buronan yang melarikan diri. Kehidupan kami di tempat pelarian benar-benar terasa sangat hampa dan serbakekurangan dari segala aspek kehidupan.

Satu-satunya pelipur lara dan tempat bersandar bagi jiwa saya yang hancur ialah rutinitas ibadah di Masjid Nabawi. Saya selalu menyempatkan diri duduk menyendiri di area Raudhah yang mulia setiap kali selesai menunaikan salat Asar. Di tempat suci itulah, saya bersujud memohon ampunan Allah Swt. atas segala dosa masa lalu saya.

Saya juga terus merapalkan doa agar Samira diberikan secercah kedamaian dan kebahagiaan hidup di tengah penderitaannya. Hingga pada suatu hari, Samira mengutarakan sebuah keinginan yang cukup mengejutkan untuk ikut beribadah ke masjid bersama saya.

Setibanya di dalam masjid, wanita itu menangis tersedu-sedu dengan pilu. Ia terus meratap memohon agar Tuhannya mengampuni dosanya dan mengembalikannya ke kampung halaman di kota Kairo demi memeluk orang tuanya kembali. Melihat kepedihan yang mendalam itu, saya pun tidak sanggup menahan air mata dan ikut menangis bersamanya.

Kami baru memutuskan pulang ke rumah setelah malam larut dan suasana masjid mulai berangsur-angsur sepi. Tepat pada waktu tengah malam, Samira mendadak membangunkan saya dengan raut wajah yang tampak tersenyum tenang. Kondisi langka tersebut sempat membuat dada saya merasa lega, sebelum ia menyampaikan sebuah firasat batinnya yang mengejutkan.

Samira menyatakan merasa sangat yakin bahwa Allah Swt. telah mendengar dan mengabulkan untaian doanya di masjid tadi siang. Ia merasa masanya untuk kembali berkumpul bersama keluarga di Kairo akan segera terwujud dalam waktu dekat ini. Hearer ucapan itu, jantung saya seketika terasa berhenti berdetak karena menyadari makna tersirat dari kalimat tersebut.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Back to top button