Ampunilah Aku, Ya Tuhanku
Tuan Salamah tertegun lama memandangi wajah wanita tersebut sebelum akhirnya menanyakan asal-usul kampung halamannya di Mesir secara perlahan. Begitu Samira menjawab bahwa dirinya adalah putri dari Tuan Mustafa An-Nadhuri, Tuan Salamah seketika terperanjat kaget setengah mati. Beliau baru menyadari bahwa wanita di depannya adalah anak dari tetangganya sendiri yang dikabarkan hilang diculik waktu itu.
Beliau memberi tahu bahwa kedua orang tua Samira hampir gila dan jatuh sakit akibat didera kesedihan yang mendalam. Samira segera meluruskan informasi tersebut dengan menegaskan bahwa dirinya tidak pernah diculik oleh saya sama sekali selama ini. Ia menjelaskan bahwa pelarian ini dilakukan atas dasar suka sama suka setelah lamaran pernikahan kami ditolak keras.
Samira memohon agar diperkenankan ikut pulang bersama rombongan Tuan Salamah demi bisa berbakti kembali kepada kedua orang tuanya. Tuan Salamah kemudian menoleh ke arah saya dan meminta izin agar saya bersedia melepaskan Samira untuk pulang ke Kairo.
Saya menjawab dengan suara bergetar bahwa Samira memiliki kebebasan penuh atas pilihan hidupnya saat ini juga. Saya mengakui telah berbuat zalim kepadanya dan bersedia menerima konsekuensi pahit ini dengan lapang dada demi kebaikannya. Meskipun jiwa saya tidak sanggup membayangkan hidup tanpanya, saya memilih mengalah demi melihat senyuman di wajah wanita yang dicintai.
Tuan Salamah kemudian mendesak agar saya segera menjatuhkan lafal talak resmi agar status pernikahan kami berakhir sah. Saya terdiam cukup lama membiarkan air mata mengalir deras sebelum akhirnya mengucapkan lafal talak satu demi mengharap rida-Nya. Samira langsung menangis histeris mendengar ucapan tersebut, dan suasana rumah seketika diselimuti oleh keheningan yang sangat mencekam.
Keesokan paginya, Tuan Salamah beserta putranya datang kembali ke rumah untuk menjemput Samira menuju pelabuhan keberangkatan kapal. Sebelum melangkah pergi meninggalkan pekarangan, Tuan Salamah memberikan sebuah jaminan keamanan yang sangat berharga bagi masa depan saya. Beliau berjanji tidak akan membocorkan keberadaan saya kepada pihak kepolisian Mesir yang sedang melakukan pencarian besar-besaran.
Namun, beliau memberikan satu syarat mutlak yang harus saya penuhi dan patuhi tanpa ada pengecualian sedikit pun. Saya diminta bersumpah untuk menghabiskan sisa seluruh umur hidup saya menetap di Madinah dan tidak mencoba kembali ke Kairo. Saya menyetujui syarat tersebut karena menyadari bahwa sel tahanan penjara di Kairo sudah pasti menanti jika saya melanggar.
Mereka bertiga akhirnya melangkah pergi meninggalkan saya seorang diri di rumah tua yang sunyi dan hampa tersebut. Lantunan suara azan magrib dari arah Masjid Nabawi mulai berkumandang tepat saat Syekh Mahmud menyelesaikan bait terakhir kisahnya. Saya melihat air mata mengalir deras membasahi janggut putihnya yang panjang dalam keheningan senja yang syahdu.
Saya memilih diam membisu selama beberapa saat hingga kondisi emosional pria tua itu kembali stabil dan tenang seperti semula. Ketika saya menatapnya kembali untuk meminta kejelasan mengenai nasib Samira selanjutnya, beliau menarik napas dalam-dalam dengan berat. Beliau bercerita bahwa bayangan Samira yang berjalan diapit oleh kedua pria itu masih terekam jelas di ingatannya.
Namun, sebelum menghilang di belokan gang, Samira mendadak menghentikan langkah kakinya lalu berbalik arah berlari kecil menghampiri saya. Dengan suara terisak menahan kesedihan, Samira membisikkan kata perpisahan terakhir yang sangat menyayat hati dan meremukkan jiwa saya: “Ia menyatakan bahwa sejatinya hatinya merasa sangat berat untuk berpisah dari kehidupan pernikahan yang telah kami bangun.”
Ia sebenarnya sangat ingin menghabiskan sisa usianya mendampingi hidup saya di mana pun kami berada saat ini. Namun, kondisi psikologisnya terbukti tidak mampu menahan siksaan batin akibat hidup jauh dari pelukan hangat orang tuanya di Kairo. Saya meyakinkan dirinya bahwa saya sangat memahami kondisi tersebut dan keputusan talak kemarin murni demi kebaikannya.
Saya meminta Samira segera berbalik badan dan melangkah pergi menyusul rombongan tanpa perlu menoleh ke belakang lagi demi kebaikan bersama. Sejak hari perpisahan yang tragis itu, saya menjalani sisa hidup di Madinah bagaikan seonggok jasad yang berjalan tanpa nyawa. Saya memutuskan mengalihkan profesi dengan membuka kedai makanan kecil ini karena memori berbisnis kain terlalu menyakitkan untuk diingat.






