Ampunilah Aku, Ya Tuhanku
Saya menyadari isyarat bahwa saya akan kehilangan dirinya dan jiwa saya belum siap menghadapi kenyataan hidup sebatang kara. Ketika saya menatapnya kembali, ia ternyata telah tertidur lelap dengan sisa senyuman yang menghiasi paras cantiknya. Saya hanya bisa terpaku memandangi wajah indahnya sepanjang malam sembari membiarkan air mata penyesalan mengalir deras.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada bulan Rajab, saya kembali melaksanakan ibadah salat Asar berjemaah di Masjid Nabawi. Suasana masjid saat itu mulai terlihat padat seiring berdatangannya gelombang jemaah umrah dari berbagai penjuru dunia. Seusai salat, saya duduk bersimpuh sembari merapalkan doa ampunan secara berulang-ulang dengan penuh kekhusyukan batin.
Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang sangat saya kenali terdengar menyindir tepat dari arah belakang punggung saya sendiri. Suara itu mempertanyakan apakah pantas bagi seorang pencuri dan pengkhianat memohon ampunan di tempat suci milik Rasulullah. Darah saya seketika terasa membeku karena menyadari bahwa pemilik suara tersebut adalah Tuan Salamah, mantan majikan saya.
Dengan tubuh gemetar, saya membalikkan badan dan melihat beliau sedang duduk tenang di sudut pilar masjid tersebut. Saya sempat terpaku tak bersuara selama beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri melangkah mendekat ke arahnya. Saya bersumpah demi Allah Swt. bahwa hidup saya tidak pernah merasakan ketenangan sedikit pun sejak malam itu.
Tuan Salamah lantas menegaskan kembali apakah ucapan tersebut merupakan bentuk pengakuan dosa jujur dari lisan saya sendiri. Saya menjawab bahwa tidak mungkin bagi saya untuk berbohong saat sedang berada di dalam rumah suci ini.
Dengan raut wajah kecewa, beliau mempertanyakan alasan di balik tindakan pengkhianatan yang saya lakukan terhadap dirinya, padahal selama ini beliau selalu memperlakukan saya dengan baik. Saya memohon dengan sangat agar beliau menghentikan caci makiannya karena penyesalan ini sudah menyiksa batin saya setiap waktu.
Saya menjelaskan bahwa tindakan nekat tersebut murni terjadi karena saya telah silau oleh hasutan nafsu setan. Tuan Salamah kemudian langsung mempertanyakan keberadaan uang kas toko miliknya yang telah saya kuras habis dari brankas.
Saya meyakinkan beliau bahwa seluruh uang tersebut tersimpan utuh di dalam rumah dan siap saya kembalikan saat ini. Saya memohon dengan sangat agar beliau bersedia menjaga rahasia ini dan tidak melaporkannya kepada kepolisian setempat. Tuan Salamah menyetujui hal itu dan memerintahkan saya berjalan di depannya untuk menunjukkan lokasi rumah tinggal kami.
Sembari berjalan menuju rumah, saya memberanikan diri menanyakan bagaimana cara beliau bisa melacak keberadaan saya di Madinah. Tuan Salamah menjawab dengan jujur bahwa beliau sama sekali tidak tahu dan tidak pernah merencanakan pencarian ini. Beliau menceritakan bahwa aksi pencurian yang saya lakukan telah menyeret usahanya ke dalam krisis keuangan yang parah.
Ketika saya menanyakan perihal keterlibatan pihak kepolisian, beliau menjelaskan bahwa kasus ini telah memicu kegemparan besar di Kairo. Pihak berwajib telah mengerahkan seluruh personel untuk melacak keberadaan saya ke berbagai wilayah namun selalu menemui jalan buntu.
Beliau menegaskan kembali bahwa kedatangannya ke Madinah murni untuk menunaikan ibadah umrah setelah krisis keuangan tokonya teratasi. Pertemuan kami di barisan saf masjid tadi merupakan murni skenario takdir dari Allah Swt. yang mempertemukan kami. Kami berdua terus melangkah membelah jalanan kota hingga akhirnya sampai di depan pintu rumah tinggal saya yang sederhana.
Kami bertiga kemudian masuk ke dalam rumah dan memilih duduk di area pekarangan dalam yang cukup terbuka. Saya segera masuk ke kamar untuk mengambil bungkusan uang curian tersebut, lalu menyerahkannya langsung ke tangan Tuan Salamah. Saya menjelaskan dengan jujur bahwa uang tersebut hanya berkurang lima puluh pound untuk modal awal sewa ruko.
Sembari beliau menghitung lembaran uang tersebut, saya berjanji akan segera melunasi sisa kekurangan dana tersebut dalam waktu dekat. Tiba-tiba, Samira keluar dari arah dapur sembari membawa nampan berisi beberapa cangkir kopi untuk disuguhkan kepada tamu. Begitu meletakkan nampan, ia langsung berlutut di hadapan Tuan Salamah sembari menangis histeris meminta pengampunan untuk suaminya.






