Ampunilah Aku, Ya Tuhanku
Saya menghabiskan sepanjang sisa malam itu untuk merenungkan siapa kerabat Samira yang bisa diajak bekerja sama. Pikiran saya akhirnya tertuju pada Abbas, sepupu laki-laki Samira yang merupakan sahabat karib saya sendiri. Abbas bekerja sebagai pegawai di Kementerian Keuangan dan diketahui sangat membenci karakter ayah Samira yang angkuh.
Begitu mengetahui perlakuan buruk keluarga Samira kepada saya, Abbas merasa geram dan menyatakan kesiapannya membantu. Tepat pada hari Jumat setelah waktu zuhur, saya menemuinya untuk mematangkan rencana pelarian tersebut.
Beberapa hari kemudian, Abbas meminta saya bersiap karena seluruh proses administrasi pernikahan telah selesai beliau atur. Kami akhirnya resmi menikah pada suatu sore di tempat rahasia yang telah disiapkan sebelumnya. Setelah prosesi usai, Samira langsung pulang ke rumahnya untuk tidur bersama orang tuanya seperti biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Sungguh mengerikan bagaimana cara setan mempermainkan akal sehat manusia ketika sedang berada dalam kondisi terdesak.
Godaan setan benar-benar telah membutakan mata hati saya yang sedang dilanda kepanikan luar biasa. Saya tetap beraktivitas di toko seperti biasa tanpa menunjukkan gelagat mencurigakan di hadapan rekan kerja lainnya. Namun, setiap kali membuka brankas toko dan melihat tumpukan uang harian, bisikan jahat itu kembali datang.
Setan menghasut bahwa uang melimpah di depan mata ini adalah hak saya atas kerja keras selama ini. Saya dihasut untuk mengambil uang sebanyak mungkin sebagai modal hidup di tempat pelarian yang baru nanti. Hasutan tersebut meminta saya segera kabur menaiki kapal laut dari Pelabuhan Suez secepat mungkin, sebelum pemilik toko menyadari adanya pembobolan kasir.
Di tengah pergulatan batin tersebut, kerabat dagang saya datang mengingatkan bahwa waktu pelarian kami semakin sempit. Beliau meminta saya segera bersiap karena kapal menuju Arab Saudi akan bertolak pada Minggu pagi hari. Kondisi itu mengharuskan kami menaiki kereta menuju Suez paling lambat pada hari Jumat malam minggu ini.
Kebetulan pada sore harinya, Tuan Salamah memanggil saya ke ruangannya untuk menyampaikan sebuah pengumuman penting. Beliau memberi tahu akan pergi dinas ke Aleksandria esok pagi dan baru kembali Minggu sore. Beliau menyerahkan seluruh urusan toko dan pengelolaan uang tunai harian sepenuhnya ke dalam tanggung jawab saya.
Beliau diperintahkan untuk menyetorkan seluruh uang tunai harian ke rekening bank milik toko pada keesokan paginya. Beliau juga meminta saya untuk sangat waspada menjaga keamanan toko selama hari Kamis dan Sabtu. Ini sebenarnya bukan kali pertama beliau memercayakan seluruh harta kekayaannya ke dalam pengelolaan tangan saya.
Namun, pada kesempatan kali ini, saya justru menyerahkan amanah tersebut ke dalam kendali nafsu setan yang merusak. Saya segera menghubungi Samira untuk mematangkan rencana pelarian kami malam itu juga tanpa menunda lagi.
Saya menguras seluruh isi brankas toko yang berisi uang tunai sebesar tujuh ratus pound malam itu. Setelah mengambil uangnya, saya mengunci kembali pintu brankas agar tidak mengundang kecurigaan di pagi hari. Saya bergegas keluar toko menemui kerabat saya yang telah menunggu di dalam sebuah mobil taksi.
Kami segera menjemput Samira yang sudah menunggu di sudut jalan terpisah sesuai dengan kesepakatan bersama. Sopir taksi langsung memacu kendaraan menuju pelabuhan untuk menaiki kapal laut yang akan berlayar menuju Jeddah. Pelayaran malam itu resmi dimulai, membawa saya, istri saya, beserta dosa besar yang kami tanggung sendiri.
Lelaki tua bernama Mahmud itu menceritakan kisah masa lalunya dengan berurai air mata di hadapan saya. Kami berdua sedang duduk santai di dalam rumah seorang mutawif tempat saya menginap selama musim haji. Kondisi fisik pria malang itu terlihat sangat lemah dan jalannya pun sudah lambat akibat faktor usia.






