Apa Dampak Serangan AS terhadap Iran?
Apa pun skenario pasca-serangan yang terjadi di Iran—konsolidasi rezim ataupun kekacauan—kawasan ini akan menanggung dampaknya.
Di antaranya adalah Mujahidin-e Khalq (MEK), yang sebelumnya ditetapkan sebagai organisasi “teroris” oleh AS dan Uni Eropa; Partai Kehidupan Bebas Kurdistan (PJAK), kelompok bersenjata Kurdi yang menginginkan pemisahan wilayah Kurdistan barat Iran; Al-Ahwaziya, gerakan nasionalis Arab yang mendukung pemisahan provinsi kaya minyak Khuzestan di barat daya; Jaish al-Adl (Jundallah), kelompok bersenjata yang beroperasi di Iran tenggara; serta kelompok-kelompok pan-Turkik di barat laut yang mengejar aliansi populasi Turki lintas Turkiye, Azerbaijan, dan Iran.
Menghadapi retorika eskalatif Washington yang berkelanjutan dan rekam jejak operasi perubahan rezim, Iran mengadopsi apa yang disebut sebagai strategi orang gila (madman strategy), dengan secara bersamaan mengirim sinyal damai dan konfrontatif. Sikap ini terlihat dari keterbukaan Teheran untuk membangun kerangka perundingan dengan AS, bersamaan dengan pidato Khamenei pada Senin yang memperingatkan bahwa setiap serangan militer terhadap Iran akan memicu “perang regional”. Hal ini menegaskan prioritas utama negara tersebut: menggagalkan perubahan rezim dengan segala cara—bahkan dengan risiko konsekuensi regional dan global.
Iran telah menegaskan bahwa mereka akan membalas, termasuk melalui pasukan sekutu di kawasan, yang berpotensi menyeret Israel dan negara-negara Teluk ke dalam konflik regional yang lebih luas. Hal ini akan memicu ketidakstabilan politik dan kerentanan ekonomi, yang pada gilirannya dapat mendorong pelarian modal dalam skala besar—terutama dari negara-negara Teluk—serta meningkatkan arus pengungsi dan migran ke Eropa.
Lebih jauh lagi, jika Iran menyerang jalur pelayaran di Selat Hormuz atau infrastruktur energi di kawasan Teluk, harga minyak dan gas global akan melonjak tajam. Ini akan memperparah volatilitas pasar, tekanan inflasi akibat kenaikan biaya energi, dan berdampak lanjutan pada ekonomi-ekonomi rapuh, yang pada akhirnya memperburuk tekanan migrasi.
Dalam situasi saat ini, setiap eskalasi militer AS membawa risiko bukan hanya bagi Iran, tetapi bagi seluruh kawasan. Sejarah Timur Tengah menunjukkan bahwa begitu konflik dipicu, ia menyebar seperti api liar, mengguncang stabilitas kawasan secara tak terduga. []
Sumber: Aljazeera






