NUIM HIDAYAT

Bahaya Game pada Anak dan Cara Menyelamatkannya

Selain itu, orang tua harus menjadi teladan. Menurut Direktorat Jenderal Kesehatan, orang tua yang tampil lebih sering main gadget atau bermain game memberikan contoh tidak sehat bagi anak.

Orang tua diharapkan mengawasi jenis game yang dimainkan anak, memastikan kontennya sesuai usia, dan mengaktifkan fitur seperti parental control yang tersedia di banyak game dan perangkat. Di samping juga sering melibatkan anak dalam kegiatan alternatif yang menarik. Seperti: olahraga, pengajian, musik atau kegiatan kreatif lainnya.

Selain itu, orang tua juga disarankan menciptakan momen bebas gadget, seperti saat makan malam, jalan pagi, atau waktu bersama lainnya untuk memperkuat hubungan dan mengurangi ketergantungan anak pada game sebagai “pelarian”.

Pakar psikologi perilaku menyarankan agar orang tua mengamati tanda-tanda stres, kecemasan, atau isolasi sosial pada anak, yang bisa memicu mereka beralih ke game sebagai pelarian. Jika sudah ada tanda kecanduan, sebaiknya konsultasikan ke psikolog atau konselor keluarga untuk strategi penanganan yang tepat.

Dalam pandangan Islam, game bukanlah musuh. Ia hanyalah sarana, perlu hati-hati. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa hiburan boleh selama tidak melalaikan kewajiban. Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa kebiasaan menjadi karakter, sehingga kecanduan game dapat membentuk sifat malas, lari dari masalah, dan tidak disiplin. Bahkan Umar bin Khattab mencontohkan bahwa waktu anak lebih baik diisi dengan aktivitas yang membangun kekuatan diri. Maka orang tua bukan sekadar mengharamkan, namun membimbing anak menuju keseimbangan, menghormati waktu, dan mengisi hidup dengan hal-hal bermanfaat.

Dr. Bradley Zicherman, seorang psikiater anak dari Stanford Medicine, memperingatkan bahwa “kecanduan video game bekerja pada jalur dopamin otak sama seperti kecanduan narkoba atau judi”, menjadikan remaja lebih rentan terhadap perilaku kompulsif dan gangguan mood.

Sedangkan penelitian panjang yang dipimpin oleh Dr. Yunyu Xiao menunjukkan bahwa bukan jumlah jam layar yang paling bermasalah, tetapi hilangnya kontrol atas penggunaan game yang berkaitan dengan gangguan emosional, kecemasan, dan peningkatan risiko ideasi bunuh diri pada remaja.

Dr. Daniel Lopez dan Tim Peneliti (AS) menyatakan, “Anak dan remaja dengan gejala kecanduan video game menunjukkan aktivitas otak yang lebih rendah pada daerah pengambilan keputusan, yang membuat mereka kurang sensitif terhadap reward di luar game.”

Walhasil, hati-hati dengan permainan game. Anak-anak yang sudah kecanduan, perlu diterapi dengan serius. Sedangkan mereka yang senang bermain game, perlu diingatkan tentang bahaya dan risiko permainan game.

Orang tua mesti tiap hari memantau kegiatan anak-anaknya dan memberikan kegiatan alternatif agar anak tidak kecanduan game. Wallahu alimun hakim. []

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button