NUIM HIDAYAT

Bahaya Game pada Anak dan Cara Menyelamatkannya

Di tengah deru kemajuan teknologi, dunia sedang menyaksikan satu fenomena yang diam-diam merampas masa depan generasi muda: kecanduan game pada anak.

Apa yang dahulu hanya menjadi hiburan sepulang sekolah, kini berubah menjadi ancaman psikologis, akademik, bahkan sosial yang nyata. Gadget yang mestinya menjadi alat belajar, justru menjelma sebagai “mesin waktu” yang menyeret anak menjauh dari dunia nyata.

Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, kecanduan game kini dilabeli sebagai “Gaming Disorder”, yaitu gangguan yang ditandai dengan hilangnya kontrol atas aktivitas bermain, prioritas yang makin condong pada game dibandingkan aktivitas lain, serta terus dimainkan meski sudah menimbulkan dampak buruk pada hidup. Dengan kata lain: bukan lagi sekadar hobi, tapi penyakit perilaku.

Kecanduan game ini menimbulkan banyak kasus. Diantaranya:

– Seorang anak laki-laki kelas 5 SD di Bandung ketahuan mencuri uang dari dompet ibunya untuk membeli item dalam game online. Ia mengaku “takut kalah level dari teman-temannya”.

* Seorang anak SMP mengamuk dan merusak televisi ketika jaringan internet mati saat ia sedang bermain ranked match. Video ini bahkan viral dan menjadi bahan pembicaraan nasional.

* Di Jakarta, seorang psikolog anak melaporkan meningkatnya kasus anak usia 7–10 tahun yang mengalami gangguan tidur, kecemasan, dan perilaku agresif akibat kecanduan game.

* Seorang ayah di desa Jawa Tengah mengeluh bahwa anaknya bolos sekolah karena memilih pergi ke warnet sejak pagi hingga sore.

Game dirancang bukan hanya untuk dimainkan. Tapi untuk membuat pemain terus kembali. Beberapa aspek psikologis yang menjerat anak dalam permainan game ini adalah: sistem poin dan reward memicu dopamine rasa senang yang berulang, menumbuhkan obsesi untuk menang dan naik tingkat, merasa diterima di dunia maya meski kesepian di dunia nyata dan melahirkan kecemasan dan sulit berhenti.

Menurut Dr. Kimberly Young, pelopor penelitian kecanduan internet, game online memberi sensasi “pelarian”, tempat anak bisa merasa menjadi pahlawan—sesuatu yang mungkin tidak mereka dapatkan di dunia nyata.

Sementara itu, Neuroscientist Dr. Andrew Huberman menjelaskan bahwa dopamin yang keluar saat bermain game dapat mengganggu sistem penghargaan otak, membuat anak sulit merasakan kebahagiaan dari aktivitas normal seperti belajar, membaca, atau bermain di luar rumah.

Psikolog anak Seto Mulyadi pernah menegaskan, “Game bukan musuh, tapi ketika game menggantikan kebahagiaan hidup anak, maka itu adalah panggilan untuk bertindak.”

Pakar kesehatan dan psikolog menyarankan agar orang tua menetapkan batasan waktu bermain yang jelas dan konsisten, misalnya 1–2 jam per hari, dan disertai istirahat teratur agar anak tidak kelelahan serta tidak berpotensi kecanduan.

1 2Laman berikutnya
Back to top button