Beratnya Jadi Pemimpin
Allah Swt mengingatkan,
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ
“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan/kebijakan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. az Zukhruf 54)
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. az Zukhruf 36)
Kedua, pemimpin dalam Al-Qur’an disebut Ulil Amri. Pemegang kekuasaan atau pemimpin urusan. Di sini mengandung makna bahwa pemimpin itu harus berilmu tinggi (ulama). Dalam Islam, pemimpin negara haruslah seorang ulama atau cendekiawan Islam. Islam melarang pemimpin yang bodoh atau pemimpin yang banyak melakukan dosa besar (seperti Trump dan Netanyahu).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an Nisaa’ 59)
Dalam Islam, pemimpin harus memahami Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah secara mendalam. Karena masalah-masalah di masyarakat harus dipecahkan dengan cara terbaik menurut Al-Qur’an, Hadits dan ijtihad yang tepat/terbaik.
Ketiga, pemimpin disebut khalifah (wakil/pengganti). Maknanya pemimpin itu sebenarnya ‘wakil Allah dan Rasulnya’ di muka bumi. Seorang khalifah mempunyai visi mewujudkan msyarakat adil makmur yang diridhai Allah Swt. Khalifah harus menjadi teladan baik di keluarga maupun masyarakatnya.
Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar-Umar bin Khatab-Utsman bin Afan- Ali bin Abi Thalib ra, adalah seorang khalifah yang ingin membawa rakyatnya ke arah kebaikan. Tapi karena saat itu, terutama di masa Ustman dan Ali, orang-orang kafir ikut merongrong, maka terjadi kekacauan di masa itu.
Masa keemasan Islam terlihat di masa Rasulullah, Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Kedua khalifah itu memberikan teladan yang luar biasa. Keduanya memerintah negara dengan adil dan memberikan keteladanan yang luar biasa. Keduanya hidup sederhana, tapi masyarakatnya hidup dalam ‘kemakmuran‘. Keteladanan Rasulullah dan para pemimpin inilah yang menyebabkan Islam saat itu tersebar ke seluruh dunia dengan cepat.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata: ‘Apakah Engkau akan menjadikan di sana orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. al Baqarah 30)
Di ayat ini dijelaskan bahwa tugas khalifah adalah membawa misi perdamaian (mencegah peperangan) dan mengajak rakyatnya beribadah kepada Allah Swt. Peradaban Barat rusak sekarang ini karena para pemimpinnya -Amerika dan Israel- mengandalkan kekuatan militer, bukan kekuatan fikiran/ilmu. Sehingga akibat keganasannya jutaan manusia meninggal dunia atau menderita.
Peradaban Islam memimpin dengan ilmu. Maka jangan heran ketika peradaban Islam menguasai dunia, penemuan-penemuan yang berharga bagi manusia terus bermunculan. Peradaban Islam mempunyai pedoman utama Al-Qur’an, sedangkan Barat tidak punya pedoman. Peradaban Barat hanya mengandalkan akal belaka. Padahal akal banyak dipengaruhi hawa nafsu ketika wahyu dibuang.
Wahyu Al-Qur’an yang diturunkan Allah Swt adalah cahaya yang menyinari akal, sehingga akal (dan jiwa) menjadi bening. Tanpa pedoman wahyu, akal menjadi kotor dan cenderung merusak manusia (diri dan masyarakatnya).





