NUIM HIDAYAT

Beratnya Jadi Pemimpin

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat mereka. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu sebagai wali bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. al A’raaf 27)

Keenam, pemimpin adalah pemegang kekuasaan/otoritas. Perkataan pemimpin harus dijalankan bawahan atau rakyatnya. Makanya seorang pemimpin harus berhati-hati dalam ucapan atau perbuatan.

Bila Rasulullah saw adalah makshum, terlindung dari kesalahan fatal, maka seorang pemimpin harus meneladani Rasulullah. Ia harus sadar bahwa perkataan dan perbuatannya disorot masyarakat. Bila ia salah/ngawur, maka masyarakat akan mencemoohnya.

Makanya dalam mengambil kebijakan, selain kebijakan itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an (Hadits), kebijakan itu juga harus yang terbaik. Untuk mendapatkan kebijakan yang terbaik, seorang pemimpin harus bermusyawarah dengan pakar di bidangnya. Tidak boleh pemimpin mengambil kebijakan seenaknya, sehingga kebijakan itu ditolak mentah-mentah rakyatnya.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (sulṭān).” (QS. ar Rahman 33)

۞ قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

“Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?” Mereka berkata: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami, bukti yang nyata”. (QS. Ibrahim 10)

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.” (QS. an Nahl 99)

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS. an Nahl 100)

Rasulullah saw adalah teladan terbaik dalam kepemimpinan. Rasulullah tidak minta kepada masyarakat, agar beliau diangkat menjadi pemimpin. Tapi justru masyarakatlah yang minta beliau agar memimpin masyarakat.

Jadi pemimpin tidak ringan. Ia adalah tugas berat, yang tidak hanya dipertanggungjawabkan di dunia, tapi juga di akhirat. Pemimpin yang zalim ancamannya adalah neraka. Sedangkan pemimpin yang adil, dijamin Rasulullah masuk surga pada tingkatan yang pertama (tinggi).

Pemimpin, bila tidak benar-benar taat kepada Allah dan RasulNya, ia cenderung menjadi zalim. Ia memimpin hanya untuk mencari popularitas, memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya serta untuk berhura-hura. Pemimpin yang zalim hidup dalam kemewahan sementara rakyatnya banyak hidup dalam kemiskinan. Pemimpin zalim dan pembantu-pembantunya bergelimang harta, sedangkan jutaan rakyatnya hidup dalam kemiskinan.

Akhirnya Rasulullah saw berpesan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button