OPINI

Catatan Kritis Kirab Milangkala di Bogor: Waspadai Tradisi Musyrik di Balik Budaya

Bahkan Rasulullah saw melarang menjadikan kuburannya sebagai tempat ritual yang diulang-ulang. Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan: “Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai tempat perayaan yang berulang.”

Apalagi jika yang dikeramatkan bukan makam nabi, melainkan situs sejarah atau tempat yang dihubungkan dengan arwah leluhur melalui prosesi yang disucikan.

Selain itu, rute kirab yang dimulai dari kawasan Museum Pajajaran Batutulis juga menimbulkan pertanyaan. Batutulis dikenal sebagai situs peninggalan Kerajaan Pajajaran yang oleh sebagian masyarakat dianggap keramat. Menjadikan tempat yang dianggap keramat sebagai titik awal prosesi dapat dimaknai sebagai bentuk tabarruk bil amakin, yaitu mencari berkah melalui tempat-tempat tertentu, sebuah tradisi yang dibersihkan oleh Islam dari akar-akar jahiliyah.

Dalam sejarah Islam, Rasulullah saw memerintahkan penghancuran pusat-pusat pengagungan berhala dan tempat yang dijadikan sumber keberkahan palsu, sebagaimana penghancuran berhala Al-‘Uzza oleh Khalid bin Walid.

Dari sisi hukum, apabila kirab tersebut hanya dimaksudkan sebagai pawai budaya tanpa keyakinan meminta berkah kepada mahkota atau leluhur, maka tetap termasuk bid’ah dalam agama karena menyerupai ritual jahiliyah, sehingga hukumnya haram. Rasulullah SAW bersabda dalam Sahih Muslim: “Setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Namun apabila disertai keyakinan bahwa mahkota atau leluhur dapat memberikan berkah, menolak bala, atau mendatangkan kejayaan, maka hal itu masuk dalam kategori kesyirikan karena telah memalingkan ibadah hati kepada selain Allah.

Sebagai umat Islam, khususnya masyarakat Bogor, hendaknya berhati-hati dalam menyikapi tradisi budaya. Melestarikan budaya adalah hal yang baik selama tidak bertentangan dengan syariat. Bahasa daerah, makanan khas, pakaian adat, seni, dan nilai-nilai luhur budaya dapat dijaga tanpa harus memasukkan unsur pengagungan terhadap benda maupun arwah leluhur.

Karena itu, jangan mudah ikut dalam prosesi yang disebut “sakral” tanpa memahami maknanya. Jangan meyakini benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib. Tauhid harus tetap menjadi fondasi utama dalam setiap aspek kehidupan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ 4: 48)

Demikian, wallahu a’lam bish shawab.

Salam ukhuwah,

Willyuddin Abdul Rasyid Dhani, Pengurus MUI Kota Bogor Periode 2011–2017 (Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pengawasan Aliran Sesat dan Menyimpang)

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button