LAPSUS

Dokumen Internal Bongkar Cara Israel Mata-matai Lembaga Kemanusiaan Global

Dokumen Menunjukkan Metode Pemantauan Israel

Para pakar menilai dokumen tersebut memperlihatkan metode Israel dalam memantau organisasi amal dan gerakan BDS, empat tahun sebelum mengesahkan undang-undang pelarangan masuk bagi pendukung kampanye tersebut.

Menurut Mayssoun Sukarieh, pada 2013 Israel mulai merasakan dampak nyata dari gerakan BDS. Oleh karena itu, kementerian tersebut ingin mencocokkan berbagai informasi mengenai organisasi-organisasi tersebut.

Ia menambahkan bahwa kemungkinan data itu dikumpulkan sebagai persiapan menuju lahirnya undang-undang tahun 2017 yang melarang pendukung BDS memasuki Israel.

“Mungkin mereka sedang mengumpulkan data untuk mendukung lahirnya undang-undang tersebut,” katanya.

Sementara itu, Giovanni Fassina, Direktur European Legal Support Center, mengatakan daftar tersebut disusun ketika Israel gencar membuat berbagai regulasi untuk melawan gerakan BDS.

“Pada 2011, Israel mengesahkan undang-undang yang menjatuhkan sanksi kepada setiap individu atau organisasi yang menyerukan boikot ekonomi, budaya, atau akademik terhadap permukiman Israel di Tepi Barat maupun terhadap Israel sendiri,” jelasnya.

Fassina menambahkan bahwa Israel telah lama membuat daftar hitam (blacklist) terhadap kelompok maupun individu dengan memanfaatkan jaringan organisasi seperti NGO Monitor.

“Ini bukan taktik baru. Mereka telah melakukannya sejak 2013. Menurut saya, dokumen ini memperlihatkan awal dari proses tersebut.”

Gerakan BDS Tanpa Kekerasan Dipandang sebagai Ancaman

Sejumlah organisasi lain yang diberi catatan dalam lembar kerja tersebut antara lain ACSUR-Las Segovias (Spanyol), DanChurchAid (Denmark), dan Diakonia/NAD (Swedia dan Norwegia).

Daftar itu juga mencakup Kvinna till Kvinna Foundation (Swedia), Medical Aid for Palestinians (Inggris), Medico International (Jerman), Norwegian Refugee Council, Palestine Solidarity Association of Sweden, Solidarité Socialiste (Belgia), Vento di Terra Onlus (Italia), serta World Vision International yang berkantor pusat di Inggris.

Dokumen tersebut mencatat bahwa Tsafrir Cohen, Direktur Medico International saat itu, pernah menulis mengenai kampanye BDS dan mendesak para politisi memberikan tekanan kepada Israel.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya
Back to top button