LAPSUS

Dokumen Internal Bongkar Cara Israel Mata-matai Lembaga Kemanusiaan Global

Hubungan Israel dengan Organisasi Kemanusiaan Kembali Menjadi Sorotan

Hubungan antara Israel dan berbagai organisasi nonpemerintah (NGO) kembali menjadi perhatian dunia selama perang Israel di Gaza yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida.

Menurut otoritas kesehatan Palestina, sejak perang dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 73.000 warga Palestina telah terbunuh.

Sepanjang operasi militer tersebut—yang dimulai setelah serangan mematikan yang dipimpin Hamas ke wilayah selatan Israel—otoritas Israel membatasi masuknya bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan ke Jalur Gaza. Otoritas Israel juga melarang pekerja kemanusiaan dan dokter asing memasuki Gaza.

Selain itu, 37 organisasi nonpemerintah (NGO) diwajibkan menyerahkan data pribadi seluruh staf Palestina mereka sebagai syarat untuk tetap dapat menjalankan operasi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Mayssoun Sukarieh menyatakan bahwa organisasi-organisasi kemanusiaan internasional selalu hadir di Palestina karena melakukan pekerjaan yang sangat penting bagi masyarakat setempat. “Mereka melakukan pekerjaan yang esensial.”

Namun, ia mengatakan bahwa selama bertahun-tahun Israel terus memberlakukan berbagai pembatasan terhadap organisasi-organisasi tersebut.

“Begitu banyak pembatasan telah diterapkan, dan pengawasan terhadap mereka juga berlangsung terus-menerus.”

Dengan demikian, menurut para pakar yang diwawancarai Al Jazeera, dokumen internal tahun 2013 itu menunjukkan bahwa pemantauan terhadap organisasi kemanusiaan internasional bukanlah kebijakan baru.

Langkah tersebut merupakan bagian dari pendekatan yang telah dijalankan Israel selama bertahun-tahun terhadap kelompok-kelompok yang dianggap mendukung hak-hak rakyat Palestina atau terkait dengan gerakan BDS.[]

Anealla Safdar

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5
Back to top button