Empat Modal Sukses Sejati Menurut Al-Qur’an
تَصْدِيقٌ بِالْقَلْبِ وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ
“Meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan.” (NU Online). Secara aplikatif, iman berarti meyakini secara mutlak seluruh kebenaran yang terkandung dalam Al-Qur’an maupun hadis.
Keimanan yang kukuh secara otomatis akan memotivasi seseorang untuk giat beramal ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, iman tersebut juga akan berfungsi sebagai rem alami yang mencegah diri dari perbuatan maksiat.
Begitu vitalnya peran iman bagi seorang muslim dalam meraih kebahagiaan hidup yang abadi. Untuk memahaminya lebih dalam, berikut adalah beberapa urgensi iman yang wajib kita perhatikan:
a. Iman sebagai Prasyarat Amal Manusia
Tanpa keimanan, amalan sebanyak dan sebaik apa pun tidak akan pernah mendapatkan pahala di sisi Allah Ta’ala. Hal ini sejalan dengan firman Allah yang menggambarkan kesia-siaan amal orang-orang kafir:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا
“Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila dia datang ke tempat itu, dia tidak mendapati sesuatu apa pun.” (QS An-Nur: 39).
Melalui ayat tersebut, Allah mengumpamakan amalan orang kafir laksana fatamorgana di atas tanah yang datar. Dari kejauhan tampak seperti air yang menyegarkan, tetapi saat didekati ternyata kosong tidak ada nilainya.
b. Nilai Iman Sangat Mahal
Berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, nilai keimanan itu jauh lebih mahal daripada emas sepenuh bumi. Bahkan, nilai keislaman ini sejatinya setara dengan keselamatan nyawa kita dari siksa neraka.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sebagai orang-orang kafir, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak ada penolong bagi mereka.” (QS Ali ‘Imran: 91).
Iman adalah anugerah tertinggi yang nilainya melebihi dunia beserta seluruh isinya. Keimanan tidak bisa dibeli dengan materi, melainkan harus diperjuangkan lewat ketaatan dan kesabaran menghadapi fitnah dunia.
c. Benteng Kemaksiatan
Jika keimanan seseorang sudah kokoh, unsur tersebut insya Allah akan menjadi benteng dari perbuatan maksiat. Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadis sahih yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radiallahu ‘anhu.
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ أَبْصَارَهُمْ فِيهَا حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda: Tidak akan berzina seorang pezina di waktu berzina jika ia sedang beriman, dan tidak akan minum khamr di waktu minum jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri di waktu mencuri jika ia sedang beriman, dan tidak akan merampas rampasan yang berharga sehingga orang-orang membelalakkan mata kepadanya, ketika merampas jika ia sedang beriman.” (HR Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan logika terbalik (mafhum mukhalafah), lunturnya iman akan membuat seseorang rentan terjebak dalam dosa. Tanpa adanya benteng penangkal yang kuat, manusia akan mudah terseret ke dalam lubang kemaksiatan.
Agar iman tetap kokoh, kita harus tekun menjalankan ibadah ritual (mahdhah) maupun ibadah sosial. Selain itu, kita perlu aktif menghadiri majelis taklim guna memahami agama secara mendalam sesuai petunjuk Nabi.
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya paham tentang agamanya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Tolak ukur keberuntungan dunia dan akhirat bukanlah melimpahnya harta ataupun tingginya jabatan. Melalui pemahaman terhadap dinul (agama) Islam inilah seorang muslim akan mampu membedakan antara yang hak dan yang batil.






