Empat Modal Sukses Sejati Menurut Al-Qur’an
Kedua: Beramal Saleh
Kriteria kedua agar seseorang beruntung adalah tekun beramal saleh sebagai buah nyata dari keimanan. Aktivitas ibadah di dalam Islam secara umum terbagi menjadi dua kategori, yaitu ibadah wajib dan ibadah sunah.
Ibadah wajib adalah serangkaian aturan mengikat yang meliputi syahadat, salat, puasa Ramadan, zakat, dan haji. Sementara itu, ibadah sunah (mustahab) berfungsi sebagai penyempurna kekurangan ibadah wajib sekaligus pelindung amalan fardu kita.
Ketiga: Saling Berwasiat dalam Kebenaran
Poin ini bermakna saling menasihati untuk menegakkan tauhid, menjalankan syariat Allah, serta menjauhi segala larangan-Nya. Rasulullah saw. memerintahkan setiap muslim untuk menyampaikan kebenaran tersebut meskipun hanya satu ayat melalui sabda beliau.
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةٍ
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR Al-Bukhari).
Hadis tersebut menjadi motivator utama bagi umat Islam untuk terus berdakwah dan menyebarkan kebaikan. Kalimat ini menekankan pentingnya membagikan pengetahuan agama yang benar secara konsisten kepada sesama manusia.
Keempat: Saling Menasihati dalam Kesabaran
Kriteria terakhir adalah saling menasihati agar konsisten menetapi kesabaran di tengah berbagai dinamika kehidupan. Sabar di sini mencakup keteguhan dalam menjauhi kemaksiatan, menjalankan kewajiban, serta rida atas takdir Allah yang menyakitkan.
Setiap muslim pasti akan diuji oleh Allah SWT untuk membuktikan kualitas iman dan menggugurkan dosa-dosanya. Saat saudara kita sedang menghadapi ujian tersebut, di sinilah peran kita untuk menguatkan mereka agar tetap tabah.
Dakwah dan Amar Makruf Nahi Munkar
Jika diperhatikan secara mendalam, kriteria ketiga dan keempat di atas sangat identik dengan aktivitas dakwah. Tugas melakukan amar makruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran) ini wajib dilaksanakan oleh setiap muslim.
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa yang melihat satu kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).
Kemungkaran dan kezaliman akan selalu muncul di dunia ini sebagai bagian dari ujian kehidupan. Oleh karena itu, para ulama wajib berdiri di garda terdepan untuk meluruskan keadaan dan tidak boleh berdiam diri.
Apabila seorang muslim memilih diam melihat kemungkaran di depan matanya, ia dikategorikan sebagai setan yang bisu. Istilah keras ini pernah disampaikan oleh seorang ulama salaf terkemuka, Abu Ali ad-Daqqaq An-Naisaburi Asy-Syafi’i.
السَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ، وَالنَّاطِقُ بِالْبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ
“Orang yang diam dari kebenaran itu adalah setan bisu, namun orang yang bicara dengan kebatilan itu adalah juru bicara setan.” (An-Nawawi, Syarah Muslim).
Jangan sampai kita menjadi pendukung kemungkaran karena tindakan itu akan menstempel kita sebagai juru bicara setan (asysyaithan annaathiq). Kita tentu harus selalu berlindung kepada Allah dari kondisi yang buruk tersebut.
Itulah pedoman praktis surah Al-‘Ashr dan hadis sahih yang harus kita pelajari demi meraih kesuksesan sejati. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nashrun minallahi wa fathun qariib.[]
Abd. Mukti, Pemerhati Kehidupan Beragama.






