OPINI

Gagasan Pembentukan NATO Islam

Inisiatif Iran dan Kontradiksi Inklusivitas

Di sisi lain, Iran mengusulkan visi yang jauh lebih ambisius. Visi tersebut mencakup seluruh 57 negara mayoritas Muslim di bawah kepemimpinan Teheran.

Asisten Khusus Menteri Dalam Negeri Iran Mohammad-Hassan Nami menyebut NATO Islam akan menjadi kekuatan terbesar dunia (Iran International, 23/5/2026). Penarikan pasukan militer asing dari kawasan pun dijadikan sebagai tujuan strategis utama.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa keberadaan pangkalan kekuatan ekstra-regional di Asia Barat merupakan sumber ketidakstabilan. Masa depan kawasan dipandang berada dalam interaksi, bukan konfrontasi.

Kelebihan visi Iran terletak pada cakupannya yang inklusif dan mencerminkan semangat persatuan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Namun, kelemahannya berada pada keterlibatan Iran dalam fragmentasi kawasan melalui dukungannya terhadap milisi di beberapa negara.

Kendati demikian, dukungan konsisten Iran terhadap Palestina merupakan kelebihan penting yang tidak dimiliki negara lainnya.

Koordinasi Longgar di Tengah Fragmentasi

Di tengah dua kutub yang bersaing, muncul alternatif ketiga yang lebih pragmatis. Dunia Muslim mungkin lebih membutuhkan mekanisme koordinasi keamanan yang fleksibel daripada pakta pertahanan mengikat.

Islamic Military Counter Terrorism Coalition (IMCTC) hingga 2026 masih berfungsi sebagai platform koordinasi kontraterorisme, bukan aliansi militer komando terpadu. Pada Desember 2025, koalisi ini meluncurkan program pelatihan “Taktik Intelijen” yang diikuti 22 perwira dari 11 negara anggota.

Kelebihan pendekatan ini adalah fleksibilitasnya. Negara anggota dapat berpartisipasi sesuai kapasitas dan kepentingan nasional masing-masing.

Namun, ketiadaan Iran dalam skenario koalisi Sunni menciptakan paradoks keamanan tersendiri. Muncul pertanyaan: bagaimana mungkin sebuah aliansi mengklaim mewakili keamanan kolektif Islam jika mengecualikan Iran?

Lebih jauh, NATO Islam yang terbentuk pada praktiknya berisiko lebih diorientasikan melawan Iran daripada Israel. Fakta ini mendiskualifikasikannya sebagai kerangka keamanan kolektif Islam yang kredibel.

Bahkan di kubu Sunni sekalipun, perpecahan internal menghancurkan fondasi solidaritas. Rivalitas antarnegara di Yaman, Sudan, hingga ketegangan regional lainnya membuat koordinasi militer berbasis konsensus hampir mustahil.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button