INTERNASIONAL

GMO Kecam Larangan Israel terhadap Jurnalis Masuk ke Gaza

Gaza (SI Online) – Kantor Media Pemerintah (GMO) di Gaza mengecam larangan Israel yang terus berlanjut terhadap jurnalis asing untuk masuk ke Jalur Gaza, menyebutnya sebagai upaya untuk menekan kebenaran dan menyembunyikan kejahatannya.

Pernyataan tersebut juga menolak keputusan terbaru Mahkamah Agung Israel, yang memberikan waktu tambahan kepada pemerintah Israel untuk menanggapi permohonan yang menuntut akses bagi media internasional.

Dalam pernyataannya pada Jumat (24/10), GMO mengatakan keputusan tersebut mencerminkan upaya Israel yang berkelanjutan untuk menghindari pertanggungjawaban dan memperkuat kebijakan pemblokiran media total yang diberlakukan sejak awal perang genosida Israel terhadap Gaza.

“Tujuannya adalah untuk mengubur kebenaran dan menyembunyikan kejahatan yang dilakukan terhadap setiap aspek kehidupan, manusia, pohon, dan batu,” bunyi pernyataan tersebut.

GMO mencatat bahwa larangan Israel terhadap jurnalis asing untuk tahun ketiga berturut-turut merupakan kejahatan terhadap kebebasan berekspresi dan hak publik untuk mengetahui. Langkah tersebut digambarkan sebagai bukti tambahan bahwa Israel jauh dari nilai-nilai demokratis.

“Perilaku ini merupakan dakwaan lain terhadap pendudukan, yang setiap hari membuktikan bahwa ia takut pada kebenaran, berusaha membungkam jurnalis yang menyaksikannya, dan membutakan mata media dunia,” tambah GMO.

Kantor tersebut menyoroti bahwa meskipun Israel berusaha menyembunyikan kejahatannya, dunia telah menyaksikan kenyataan tersebut melalui kerja jurnalistik yang berani dari jurnalis Gaza dan media lokal.

“Para jurnalis ini telah menunaikan kewajiban profesional dan moral mereka meskipun harus membayar harga yang sangat mahal akibat genosida, dengan 255 jurnalis tewas, 48 ditahan, dan puluhan lainnya terluka sejak Oktober 2023,” kata pernyataan tersebut.

GMO menggambarkan larangan yang sedang berlangsung sebagai “noda memalukan” tidak hanya bagi Israel tetapi juga bagi lembaga internasional yang mengklaim memperjuangkan kebebasan pers dan hak asasi manusia namun gagal mengambil tindakan yang berarti.

Ia mendesak Federasi Jurnalis Internasional, organisasi hak asasi manusia, dan Pelapor Khusus PBB tentang Kebebasan Berekspresi untuk menekan Israel dan pendukungnya agar menghentikan kebijakan represif ini, dengan mengatakan hal itu “menodai piagam dan komitmen moral mereka.”

Pernyataan tersebut diakhiri dengan keyakinan bahwa membiarkan jurnalis asing masuk ke Gaza akan memperkuat narasi Palestina yang autentik, mengungkap kebohongan Israel, dan memperkuat isolasi globalnya. “Kebenaran penderitaan rakyat kami selama dua tahun genosida tidak dapat dibungkam,” tegasnya.

sumber: infopalestina

Back to top button