Hikmah dari Iran
Negara bernama Republik Islam Iran kini jadi perhatian dunia. Meski selama sebulan mendapat gempuran militer mematikan dari negara imperialis AS dan Israel, Iran tetap bertahan. Negara adidaya tidak menyangka Iran mempunyai rudal ribuan yang jangkauannya lebih dari 2000 km.
Negara yang berpenduduk 93 juta jiwa ini (Syiah 90% dan Sunni 9%), dilirik banyak pemimpin dunia karena prestasinya dalam memajukan negaranya luar biasa. Iran, sejak revolusi dari kerajaan ke republik Islam, mempunyai ketahanan ekonomi, politik dan militer yang luar biasa. Amerika dan Israel bersama-sama negara Eropa telah memblokade ekonomi Iran sejak 1979, tapi Iran tetap bertahan dan tumbuh menjadi negara yang mandiri dan berkembang ilmu dan teknologinya. Setelah diblokade Amerika cs, Iran kemudian menjalin erat hubungan ekonomi dan militer dengan Rusia dan Cina.
Sejarawan terkenal Arnold J. Toynbee pernah mengatakan, “Civilizations die from suicide, not by murder.” Peradaban hancur karena bunuh diri, bukan karena dibunuh. Ya peradaban bangsa hancur bukan dari serangan luar, tapi kebanyakan rusak dari dalam. Apakah karena korupsi, ketidakadilan, kemerosotan moral, konflik internal atau hilangnya nilai dan tujuan dari negara itu.
Salah satu kekuatan terbesar Iran terletak pada sektor pendidikan. Negara ini secara konsisten menempatkan pendidikan sebagai prioritas nasional. Data menunjukkan bahwa tingkat melek huruf Iran mencapai sekitar 94% dan bahkan 97% di kalangan generasi muda. Ini menunjukkan investasi besar dalam pembangunan sumber daya manusia.
Pendidikan dasar di Iran bersifat gratis dan terpusat di bawah negara, sementara pendidikan tinggi berkembang pesat dengan jutaan mahasiswa di universitas-universitasnya. Konstitusi Iran menyatakan bahwa negara menjamin pendidikan gratis di semua tingkat dan mendorong perluasan pendidikan tinggi. Di universitas-universitas negeri Iran, kebanyakan biaya kuliah mahasiswa gratis atau biaya sangat kecil (disubsidi pemerintah).
Hal ini mengingatkan pada pemikiran ilmuwan Muslim klasik Ibnu Khaldun, “Ilmu adalah dasar kemajuan peradaban.” Filosof Barat George Sarton juga menyebut bahwa ilmu pengetahuan modern lahir dari peradaban Islam. Ketika akses terhadap teknologi luar dibatasi, Iran membangun manusia sebagai modal utama.
Di samping itu, Iran bukan sekadar negara modern, ia adalah ‘pewaris peradaban besar Persia‘ yang banyak melahirkan ilmuwan besar dunia Islam. Nama-nama seperti: Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Imam Ghazali dan lain-lain banyak yang berasal dari Iran.
Baca juga: Iran, Musuh atau Sahabat?
Blokade ekonomi yang dilakukan Amerika dan Israel cs terhadap ekonomi dan teknologi Iran, tidak membuat negara itu putus asa. Mereka terus mengembangkan ilmu di kampus-kampus dan masyarakatnya secara luas. Mereka mengembangkan: teknologi nuklir sipil, industri militer domestik, riset medis dan farmasi, dan berbagai teknologi lainnya.
Iran dikenal memiliki sistem subsidi besar, terutama untuk energi dan kebutuhan pokok. Pemerintah bahkan mengalokasikan puluhan miliar dolar setiap tahun untuk menjaga harga barang tetap terjangkau. Selama bertahun-tahun, harga bahan bakar di Iran termasuk yang termurah di dunia karena subsidi besar negara .
Dengan kekayaan energi besarnya, Iran mampu memenuhi kebutuhan energi domestik, menjaga harga-harga produk tetap rendah dan mengurangi ketergantungan impor.
Cadangan minyak Iran kini sekitar 208 miliar barel. Ia adalah peringkat ketiga di dunia, setelah Venezuela dan Arab Saudi. Harga bensin di Iran sekitar Rp400,- sampai Rp1200,- per liter.
Sistem pemerintahan di Iran tergolong unik. Iran menyatukan antara teokrasi dan demokrasi, atau sering disebut dengan istilah teokrasi demokrasi. Teori pemerintahan ini mirip dengan teori yang dicetuskan ulama besar Sunni Pakistan, Abul Ala Maududi. Jadi di Iran ada pemilu dan lembaga demokrasi, tapi lembaga-lembaga demokrasi itu ‘semuanya harus tunduk‘ pada pemimpin agama (Rahbar), sebagai otoritas tertinggi di Iran.






