RESONANSI

Ilusi Pakar di Era ‘Scroll’: Membaca Ulang ‘The Death of Expertise’

Semakin tinggi ilmu seseorang, biasanya semakin besar pula kesadarannya tentang luasnya hal yang belum ia ketahui. Mereka menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dalam berfatwa.

Sayangnya, budaya digital hari ini sering kali bergerak ke arah yang berlawanan. Algoritma media sosial tidak bekerja berdasarkan kedalaman ilmu, melainkan berdasarkan intensitas perhatian (engagement).

Sesuatu yang viral di internet belum tentu menjadi hal yang paling benar. Yang paling banyak dibagikan pun belum tentu menjadi informasi yang paling ilmiah.

Begitu pula dengan mereka yang paling keras berbicara, belum tentu menjadi pihak yang paling memahami persoalan. Keributan digital sering kali menenggelamkan kebenaran yang jernih.

Karena itu, perdebatan mengenai sertifikasi penceramah yang beberapa kali muncul di ruang publik sebenarnya menarik jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas. Persoalannya bukan semata-mata mengenai setuju atau tidak setuju terhadap regulasi tersebut.

Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana masyarakat pascamodern menjaga kualitas otoritas keagamaan. Kita ditantang menjaga marwah ilmu di tengah situasi ketika siapa pun dapat berbicara atas nama agama kepada jutaan orang.

Pertanyaan besar tersebut tentu tidak mudah untuk dijawab secara instan. Namun satu hal yang pasti, umat hari ini sangat membutuhkan kemampuan literasi yang kuat.

Umat harus mampu membedakan antara popularitas dan kepakaran yang sesat. Kita harus bisa memisahkan antara viralitas murni dan kedalaman ilmu, serta antara banyak bicara dan banyak belajar.

Tantangan terbesar dunia pendidikan hari ini bukan lagi sekadar mengajarkan cara mencari informasi. Tantangan yang jauh lebih besar adalah menumbuhkan kembali sikap tawaduk terhadap ilmu.

Kita membutuhkan generasi baru yang tidak mudah merasa paling tahu atas segala urusan. Kita memerlukan generasi yang tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan hukum.

Umat merindukan generasi yang tetap mau membaca buku ketika orang lain hanya melihat judul. Kita butuh generasi yang tetap mau belajar dengan tekun ketika orang lain sibuk berdebat di kolom komentar.

Barangkali itulah pelajaran penting yang bisa kita petik ketika membaca ulang The Death of Expertise hari ini. Di tengah melimpahnya informasi dan mudahnya akses terhadap jawaban, yang semakin langka justru adalah kerendahan hati untuk terus belajar.

Dalam kehidupan beragama, kerendahan hati itulah yang menjadi awal dari lahirnya ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang benar-benar membawa manusia semakin dekat kepada kebenaran hakiki yang diridai Allah Swt.[]

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button