Ilusi Pakar di Era ‘Scroll’: Membaca Ulang ‘The Death of Expertise’
Masalahnya, kemudahan memperoleh jawaban instan tidak selalu melahirkan pemahaman yang substantif. Banyak orang akhirnya terjebak pada ilusi pengetahuan yang semu.
Mereka merasa tahu hanya karena pernah membaca ringkasan singkat. Mereka juga merasa memahami masalah karena pernah menonton video pendek berdurasi beberapa detik.
Bahkan, tidak sedikit yang merasa ahli hanya karena pernah membaca beberapa utas (thread) di media sosial. Padahal, memahami sesuatu secara hakiki membutuhkan proses yang jauh lebih panjang daripada sekadar memperoleh potongan informasi.
Fenomena akut ini semakin terasa dalam dinamika kehidupan beragama kita hari ini. Media sosial telah melahirkan ribuan mimbar baru yang tidak pernah dikenal oleh generasi-generasi sebelumnya.
Jika dahulu ceramah berlangsung di masjid, majelis taklim, atau ruang-ruang pendidikan formal, hari ini dakwah berlangsung di TikTok, YouTube, dan Instagram. Tentu saja digitalisasi ini membawa manfaat besar bagi perluasan syiar Islam.
Dakwah menjadi lebih mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa sekat geografis. Kajian-kajian keislaman kini dapat menjangkau masyarakat yang sebelumnya sulit memperoleh akses terhadap ilmu agama.
Namun, bersamaan dengan kemudahan itu, muncul pula persoalan baru yang tidak kalah pelik. Batas antara kepakaran yang sahih dan popularitas semata menjadi semakin kabur.
Hari ini, seseorang dapat mengumpulkan jutaan pengikut dengan sangat mudah tanpa pernah melalui proses pendidikan keagamaan yang memadai. Selera pasar digital sering kali mendikte siapa yang layak didengar di ruang publik.
Sebaliknya, seorang ulama yang menghabiskan puluhan tahun untuk belajar justru bisa kalah pengaruh. Mereka kalah bersaing dengan potongan video satu menit yang dirancang khusus mengikuti selera algoritma.
Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa cukup memahami persoalan agama hanya karena mengikuti beberapa akun media sosial. Mereka dengan mudah mengomentari fatwa, mengoreksi ulama, bahkan memvonis pendapat yang berbeda tanpa memahami akar persoalannya.
Di sinilah kita perlu mengingat kembali satu tradisi penting dalam peradaban Islam, yaitu adab terhadap ilmu. Dalam tradisi Islam yang luhur, ilmu bukan sekadar kumpulan informasi mentah yang bebas ditafsirkan siapa saja.
Ilmu yang berkah diperoleh melalui proses belajar yang panjang dan melelahkan. Di dalamnya ada guru yang membimbing, ada kitab yang dipelajari secara runtut, ada sanad keilmuan yang dijaga, dan ada kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri.
Para ulama besar dalam sejarah Islam tidak pernah lahir dari budaya scroll yang serbacepat. Mereka tumbuh melalui kesabaran membaca, berdiskusi, menghafal, mengkaji, dan menguji pemahaman selama bertahun-tahun.






