#Bebaskan PalestinaINTERNASIONAL

Israel Gunakan Krisis Air sebagai Alat Kematian Perlahan bagi Warga Gaza

Gaza (Suaraislam.id) – Pusat Hak Asasi Manusia (HAM) Palestina memperingatkan bahwa sistem penyediaan air di Jalur Gaza berada di ambang kehancuran akibat serangan Israel yang terus berlangsung, penghancuran infrastruktur, serta pembatasan masuknya bahan bakar dan peralatan yang dibutuhkan untuk mengoperasikan maupun memperbaiki fasilitas air.

Kondisi tersebut memaksa lebih dari dua juta warga Palestina menghadapi musim panas dalam situasi yang sangat memprihatinkan. Suhu di dalam tenda-tenda pengungsian dilaporkan melampaui 40 derajat Celsius, sementara ratusan ribu keluarga bahkan tidak memiliki pasokan air minimum untuk minum dan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Dilansir Palinfo, Ahad (28/6/2026), Pusat HAM Palestina menyatakan bahwa kelangkaan air dan memburuknya krisis kemanusiaan merupakan akibat langsung dari kebijakan sistematis Israel yang menargetkan fondasi kehidupan sipil, terutama infrastruktur air dan sanitasi.

Menurut lembaga tersebut, kerusakan yang meluas telah menyebabkan hampir lumpuhnya layanan dasar, menciptakan lingkungan yang tidak layak huni, meningkatkan risiko penyebaran penyakit dan wabah, serta mendorong penduduk ke kondisi kehausan dan kekurangan gizi.

Pusat tersebut mengungkapkan bahwa data yang mereka dokumentasikan menunjukkan rata-rata ketersediaan air bagi setiap warga Gaza turun drastis, dari sekitar 80 liter per orang per hari sebelum Oktober 2023 menjadi hanya 3 hingga 6 liter per hari di sebagian besar wilayah. Bahkan, di beberapa daerah jumlahnya tidak lebih dari 2 liter per orang per hari. Angka tersebut jauh berada di bawah standar darurat minimum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 15 liter per orang per hari.

Lembaga itu juga mengutip data berbagai organisasi kemanusiaan internasional yang menunjukkan lebih dari 80 persen jaringan air dan sanitasi di Jalur Gaza telah hancur atau mengalami kerusakan berat akibat pemboman Israel, yang menurut laporan dilakukan secara sengaja.

Selain itu, lebih dari 1.675 kilometer jaringan pipa air dan saluran pembuangan dilaporkan rusak atau hancur. Sebagian besar fasilitas desalinasi, stasiun pemompaan, dan instalasi pengolahan air juga berhenti beroperasi. Air yang masih dipompa banyak terbuang akibat kebocoran jaringan, sementara sebagian besar air tanah tidak lagi layak dikonsumsi karena tingginya kadar garam dan pencemaran limbah.

Pusat HAM Palestina menjelaskan bahwa runtuhnya sistem penyediaan air juga dipicu oleh terus terhambatnya pasokan bahan bakar untuk mengoperasikan fasilitas air, ditambah pemadaman listrik yang berkepanjangan di seluruh Jalur Gaza. Akibatnya, sumur air, instalasi desalinasi, dan stasiun pompa tidak dapat berfungsi secara normal.

Situasi tersebut memaksa warga menempuh perjalanan jauh hanya untuk memperoleh air dalam jumlah yang sangat terbatas, yang dalam banyak kasus juga tidak aman untuk dikonsumsi.

Di tengah gelombang panas yang sedang melanda, lembaga itu memperingatkan meningkatnya ancaman kesehatan dan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hampir satu juta warga Palestina kini tinggal di tenda-tenda yang minim fasilitas dasar, sementara ribuan keluarga harus memilih apakah air yang mereka miliki digunakan untuk minum, memasak, atau menjaga kebersihan diri.

Kondisi itu telah memicu meningkatnya penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air, terutama di kalangan anak-anak, lansia, dan warga yang sedang sakit.

Pusat HAM Palestina menilai fakta-fakta di lapangan, ditambah pembatasan Israel terhadap masuknya bahan bakar, peralatan, dan material yang diperlukan untuk memulihkan fasilitas air, menunjukkan bahwa kekurangan air digunakan sebagai sarana menekan penduduk sipil.

1 2Laman berikutnya
Back to top button