Kekuatan Buku
Munculnya peradaban, adalah ketika ditemukan tulisan. Islam sangat menghargai tulisan. Ayat yang pertama turun adalah surat al Alaq bicara tentang tulisan (pena). Tulisan yang terinspirasi dari Allah Yang Maha Kuasa.
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. al Alaq 1-5)
Bayangkan dunia tanpa tulisan. Dunia tentu tidak akan ‘maju‘ seperti sekarang. Penemuan-penemuan baru karena ada ilmu yang ditulis sebelumnya. Tidak ada agama satupun di dunia yang menghargai tulisan begitu tinggi, sebagaimana Islam. Ayat yang pertama turun tentang baca dan tulis, ini menunjukkan betapa pentingnya tulisan dalam kehidupan manusia (khususnya Muslim).
Rasulullah saw sebagai seorang Nabi teladan juga seorang penggerak dunia tulis menulis, meski beliau sendiri seorang yang ‘ummi’. Setiap ayat turun kepada Rasul, Rasul menyuruh para sahabat menghafal dan menuliskannya. Al-Qur’an yang turun pada generasi awal, selain dijaga dalam bentuk hafalan, juga dijaga dalam bentuk tulisan.
Hanya kitab suci Al-Qur’an yang dijaga sejak awal dengan tulisan dan hafalan oleh kaum Muslimin. Kitab yang katanya suci selain Al-Qur’an, tidak dijaga seketat Al-Qur’an. Maka lebih tepat disebut sebagai ‘kitab kotor’ karena sudah banyak campur tangan manusia dan tidak jelas sejarah manuskripnya.
Al-Qur’an adalah buku/kitab suci yang menempati struktur paling atas dalam referensi. Di bawah Al-Qur’an ada jurnal/buku, majalah, koran, website, medsos. Jadi kalau anda sehari-hari disibukkan dengan medsos atau berita-berita dari website, maka itu adalah informasi atau ilmu yang tingkatannya paling rendah.
Di medsos tidak semua benar. Banyak informasi palsu di sana atau informasi separuh yang membingungkan bagi orang yang berilmu. Orang awam tidak bisa membedakan informasi yang benar, separuh benar atau palsu. Mereka cenderung percaya saja pada informasi yang diterimanya.
Kaum Muslim yang terpelajar (Ulil Albab) seharusnya tidak demikian dalam menyikapi informasi yang melimpah ruah sekarang ini. Ia harus menyaring apakah informasi itu benar atau tidak. Alhamdulillah sekarang banyak bermunculan website yang menyediakan pengecekan informasi, foto atau video yang tersebar benar atau tidak.
Al-Qur’an sudah sekitar 1400 tahun yang lalu mengingatkan penting cek dan ricek terhada informasi yang kita terima.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. al Hujurat 6)






