NUIM HIDAYAT

Kekuatan Buku

Di dunia yang melimpah informasi informasi saat ini, kita mesti hati-hati. Jangan mudah kita menyebarkan berita yang belum valid. Apalagi yang tidak jelas sumbernya. Kalau berita itu bersumber dari website yang terpercaya, biasanya benar. Itupun harus di crosscheck.

Karena biasanya wartawan menulis berita sesuai dengan yang diminatinya. Misalnya wartawan politik, maka ia lebih memilih peristiwa-peristiwa politik atau liputan politik bila ada sebuah kejadian. Begitu juga wartawan ekonomi akan lebih menitikberatkan tulisannya pada bidang ekonomi.

Ideologi wartawan juga seringkali tercermin dalam tulisannya. Wartawan-wartawan Al Jazeera tentu beda gaya menulisnya dengan wartawan CNN atau wartawan Israel. Wartawan Israel, seringkali tidak mau menjelekkan negaranya sendiri. Ia akan membela mati-matian negaranya meski negaranya melakukan kesalahan besar.

Prinsip utama kejujuran kadang dilanggar. Wartawan yang baik tentu tidak mau menyebarkan kebohongan. Ia hanya ingin menulis berdasarkan fakta yang diliput. Tapi dunia ini tidak semuanya diwarnai orang baik. Ada wartawan-wartawan yang menulis sekedar untuk mencari uang. Ia tidak peduli tulisan itu bermutu atau tidak. Ia tidak peduli yang ditulisnya benar, separuh benar atau sepertiga benar.

Makanya jangan tiap hari kita disibukkan dengan membaca berita di website atau medsos. Cobalah tiap hari baca juga buku terhebat di dunia, yang tidak ada kesalahannya, yaitu Al-Qur’an. Atau baca juga kumpulan ilmu yang statusnya dibawah Al-Qur’an yaitu buku.

Buku adalah kumpulan informasi atau ilmu pengetahuan. Buku biasanya jauh lebih mendalam pembahasannya dibanding majalah, website atau medsos. Buku biasanya membahas hal-hal yang di masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Ia tidak hanya membahas hal-hal di masa kini sebagaimana di website atau medsos.

Ini menjawab pertanyaan, mengapa di dunia yang merebak medsos sekarang buku masih diminati. Meskipun yang berminat membaca buku jauh berkurang dibanding waktu yang dulu. Informasi yang lebih mendalam dan banyaknya referensi yang digunakan, membuat buku tetap diminati, khususnya oleh kaum terpelajar. Oleh kaum terpelajar/cendekia Islam atau Ulil Albab.

Salah satu ciri Ulil Albab menurut Al-Qur’an adalah dia bisa memilih informasi atau pemikiran yang terbaik yang ia ambil. Ia tidak sembarangan mengambil pemikiran, tapi ia mengambil pemikiran yang terbaik, setelah membandingkan satu pemikiran dengan pemikiran lain.

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (tidak menyembahnya) dan kembali kepada Allah, bagi mereka kabar gembira; maka sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah ulil albab/kaum cendekiawan.“ (QS. az Zumar 17-18)

Menarik, ayat tentang Ulil Albab yang harus mengambil pemikiran terbaik di antara pemikiran-pemikiran yang ada, Ulil Albab juga harus berani menjauhi thaghut. Thaghut maknanya segala sesuatu yang disembah selain Allah. Bila orang tidak berani atau menyerah pada thaghut, maka orang itu tidak akan berani memilih pendapat yang terbaik. Thaghut bisa berupa uang, jabatan atau hal-hal duniawi lainnya.

Jadi kaum Muslim dituntut untuk memilih pemikiran yang terbaik dalam kehidupan ini. Tidak sembarangan mengambil pendapat. Misalnya, pendapat tentang musik. Ada ulama yang mengharamkan dan ada yang membolehkan. Maka disini kita harus memilih yang terbaik, berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan. Musik hakikatnya adalah nada. Suara manusia sebenarnya adalah nada.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button