Kekuatan Silaturahmi
Adakah prinsip yang lebih hebat dari Al-Qur’an tentang keadilan? Bila kita cermati, tidak ada ideologi yang menggariskan prinsip keadilan yang lebih hebat dari Al-Qur’an. Jadi secara implisit di sini dinyatakan bahwa meskipun kita benci kepada kaum kafir, kita dilarang berbuat zalim kepada mereka. Kita meski berlaku adil kepada siapapun.
Jadi kalau kaum kafir hebat dalam bidang teknologi kita katakan hebat. Tapi kalau mereka zalim, kita harus katakan zalim juga. Sebagaimana kezaliman yang mereka lakukan di Gaza, Tepi Barat dan Iran sekarang ini.
Al-Qur’an mengingatkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا ۚ وَإِن تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika dia yang dipersaksikan itu kaya ataupun miskin, maka Allah lebih mengetahui kemaslahatan keduanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, agar kamu tidak menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan kebenaran atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. an Nisa‘ 135)
Inilah salah satu kehebatan Al-Qur’an. Bayangkan Al-Qur’an mendorong kita untuk bersikap adil terhadap diri sendiri, orang tua atau kerabat kita. Al-Qur’an mengerti lekuk-lekuk jiwa manusia yang cenderung tidak bersikap adil ketika menyangkut diri sendiri, orang tua atau kerabat.
Ego manusia, kalau menyangkut diri sendiri cenderung tidak adil. Contoh, dalam penulisan biografi adakah orang yang menuliskan keburukan dirinya?
Biasanya dalam biografi orang menulis kebaikannya saja, cacat atau keburukannya dalam perjalanan hidup tidak dituliskannya. Padahal kalau ditulis juga mungkin banyak.
Memang kaum kafir ini banyak yang bersikap zalim. Sikap zalim ini dimulai dari para pendeta atau cendekiawan mereka yang menolak kenabian Muhammad saw. Keberadaan Nabi ditolak, maka ujungnya seluruh isi Al-Qur’an yang dibawa Nabi juga ditolak.
Inilah permulaan sikap zalim orang-orang kafir itu. Mereka tidak mau membandingkan Al-Qur’an dengan Bibel, atau kitab suci yang diyakini mereka. Sikap zalim ini kemudian beranakcucu dengan sikap zalim dalam politik, budaya, militer dan lain-lain.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia menasihatinya: ‘Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman 13)
Ya karena mereka menolak kenabian Muhammad saw, maka mereka menyembah Tuhan lain yang tidak mengutus Nabi Muhammad. Kaum Nasrani berkeyakinan Tuhan mereka adalah Yesus. Nabi Isa, selain Nabi ia juga Tuhan. Kaum Yasrani begitu juga membuat Tuhan lain. Mereka menolak kenabian Isa as dan Muhammad saw.
Kedua agama ini berprasangka buruk terhadap Nabi Muhammad saw. Muhammad dianggap mereka nabi palsu. Mereka tidak mempelajari serius bagaimana riwayat hidup Nabi Muhammad, kehebatan Nabi, kemukjizatan Nabi. Mereka telah zalim sejak dari fikiran. Mereka tidak mau bersikap adil dalam menilai manusia lain. Mereka buta terhadap kebenaran dan kehebatan Nabi Muhammad saw.
Karena itu Rasulullah menyuruh kita agar melakukan shalat wajib 17 rakaat tiap hari. Yang dimana dalam setiap rakaat itu ada celaan terhadap Yahudi dan Nasrani yang menolak kenabian Muhammad saw, menolak jalan kenikmatan/kebahagiaan.






