#Piala Dunia 2026MUHASABAH

Ketika Sepak Bola Mampu Menyatukan Dunia, Mengapa Ukhuwah Islamiyah Masih Ternoda?

Terpecah oleh Batas-Batas yang Diciptakan Manusia

Dunia Islam hari ini terdiri atas lebih dari 50 negara. Sayangnya, jumlah yang besar tersebut tidak selalu merepresentasikan kekuatan yang solid.

Kondisi ini justru sering menjadi cerminan dari fragmentasi politik yang akut. Konflik antarsesama negara Muslim, rivalitas geopolitik, dan perbedaan kepentingan ekonomi kian memperparah keadaan.

Ditambah dengan campur tangan kekuatan asing, umat Islam kerap gagal bersikap solid dalam menghadapi persoalan bersama. Ketika Palestina terus dihantam agresi, respons dunia Islam justru sering berjalan sendiri-sendiri.

Hal yang sama terjadi ketika krisis kemanusiaan melanda Sudan, Yaman, atau wilayah Muslim lainnya. Padahal, Rasulullah saw. pernah menggambarkan hubungan sesama Muslim bagaikan satu tubuh: “Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR Bukhari dan Muslim).

Standar persatuan yang diajarkan dalam Islam ini tentu jauh lebih tinggi. Nilainya tidak bisa disamakan dengan solidaritas sesaat di tribun stadion.

Ketika Hiburan Menjadi Cermin

Islam sendiri tidak pernah memusuhi aktivitas olahraga. Rasulullah saw. justru menganjurkan umatnya untuk memiliki fisik yang kuat.

Beliau pernah berlomba lari bersama Aisyah serta mendorong umatnya untuk belajar memanah dan berkuda. Oleh karena itu, menikmati pertandingan sepak bola bukan hal yang tercela.

Aktivitas tersebut diperbolehkan selama tidak melalaikan kewajiban dan tetap berada dalam koridor syariat. Hal yang perlu diwaspadai adalah ketika fanatisme terhadap tim atau pemain berubah menjadi identitas mutlak.

Jangan sampai fanatisme tersebut mengalahkan identitas utama sebagai seorang Muslim. Tidak sedikit orang yang rela begadang demi menonton pertandingan, tetapi merasa berat untuk bangun menunaikan salat Subuh.

Ada pula yang hafal seluruh statistik pemain favoritnya, tetapi tidak mengetahui sejarah para sahabat Rasulullah. Di sinilah Piala Dunia menjadi sebuah cermin besar bagi kita.

Hal ini bukan karena sepak bolanya yang salah, melainkan karena fenomena tersebut memperlihatkan cara manusia berkorban. Manusia sanggup bersatu demi sesuatu yang dianggap penting.

Pertanyaannya, apakah semangat yang sama juga muncul ketika menyangkut kepentingan umat secara luas?

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button